yoh

p3m

there

Akal Bulus Pencitraan Masa Kini

14Nov2015

citra

Pejabat publik selalu melakukan pencitraan akan segala tindakannya baik secara disengaja maupun tidak sengaja, baik itu dilakukan dengan cara terselubung atau tidak terselubung, bahkan terang terangan sehingga menjadi tampak bodoh. Kebanyakan pencitraan dianggap sebagai cap, stigma, anggapan dan dilakukan oleh lawan politiknya, seperti halnya Pak SBY merupakan salah satu target penyerangan pihak lain dengan pencitraan ini, Pak SBY dicitrakan sudah banyak melakukan kegagalan, seperti partai binaanya yang isinya para koruptor.

Saking jengkelnya seseorang yang kesal sama Pak SBY plat nomor mobil pun dibuat sedemikian rupa agar Pak SBY menjadi blo’on, tak lain adalah plat mobil nomor B 360 SBY ( dibaca : Bego SBY ). Entah siapa yang begitu norak beraninya menghina seorang pengganti presiden Indonesia itu ( Maaf ! bagi guwe presiden Indonesia cuma satu Ir. Soekarno, yang lain itu cuma penggantinya saja ). Konon itu dilakukan oleh salah satu oknum paratidaknormal kondang di Indonesia.

Pencitraan demi pencitraan sebenarnya terkesan baik dan bagus, seorang presiden harus mencitrakan dirinya sebagai seorang pemimpin, itu kalau dinilai secara obyektif, sayangnya penilaian pencitraan dilakukan oleh lawan politik sehingga menjadi negatif, entahlah kenapa di Indonesia istilah istilah yang baik sekarang banyak dieksploitasi demi kejelekan semata, apakah memang orang Indonesia itu kalau menghadapi lawan tidak bisa jujur kacang ijo ? Mana mau orang Indonesia ngalah, lha wong sama Belanda atau Jepang saja dilawan dengan bambu runcing.

Jika ditelusuri pencitraan merupakan asal kata citra yang berarti diwujudkan, digambarkan, atau dalam bahasa linggis : image. Semua itu bernuansa netral, tidak berpihak kanan kiri, atas bawah. Orang gagah dicitrakan sebagai orang yang berbadan atletis, bahkan mungkin ganteng nan tampan bak pangeran kemaren sore. Citra merupakan kata netral, milik semua golongan dan non golongan, orang kere paling miskin dicitrakan sebagai orang yang berbaju compang camping, konglomerat paling kaya dicitrakan dengan memiliki puluhan bahkan ratusan perusahaan, mobil sepuluh, rumah dua belas, semua tipe sepanyol, tidak ada gubug. Namun begitu bertemu dengan orang yang dihormati akan merendah : silakan mampir ke gubug saya. Gubug kok kayak istana.

Orang kaya yang baik akan mencitrakan bahwa dirinya sebagai orang miskin, merasa semua itu bukan miliknya, juga bukan milik anda, tetapi titipan Tuhan yang harus dijaga dan dikembangkan semakin kaya, orang sombong akan mencitrakan bahwa dirinya merasa bisa apa saja, padahal cuma omdo dowang. Orang serakah akan mencitrakan bahwa dirinya semua yang ada itu milik haknya. Orang rakus akan mencitrakan bahwa dirinya apa saja dimakan atau diuntal.

Ketika kata pencitraan diwujudkan dalam ranah politik, artinya menjadi kacau, menjadi tak terkendali. “Halah itu cuma pencitraan, melakukan safari ke rakyat kecil tanpa melakukan tindakan apa apa, cuma janji janji dowang, bikin orang sebel, dasar pejabat geblek”. Jadi dalam ranah politik, pencitraan merupakan “shut down” bagi lawan politik.

Pencitraan dalam ranah politik seperti identik dengan hiperbola, melebih lebihkan diri, padahal cuma apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih, semakin banyak pencitraan dianggap sebagai sarana mencari simpati, mencari dukungan belaka. Model model pencitraan seperti itu akan membuat orang partai menjadi jengah “Itu pimpinan kami bukan pencitraan, tapi tindakan nyata, tidak mungkin partai kami yang merakyat melakukan pencitraan”. Namanya politik apapun dilakukan untuk memperbaiki citra partainya sendiri, pencitraan yang datang dari dalam, tapi jika pencitraan dari luar dianggap sebagai hal yang sesat.

Yang paling aneh adalah pencitraan sebagai terdakwa, begitu bengisnya seorang pembunuh, ketika disidang sudah berubah bak orang yang sok suci, menangis memohon belas kasihan, yang kena kasus tabrakan ketika menyopir dengan mabuk, tiba tiba berubah drastis bak orang alim nan religius, padahal seminggu yang lalu nenggak ekstasi atau minuman keras. Pencitraan yang dalam waktu singkat, pertanyaannya apakah pencitraan semacam itu cuma sementara demi keringanan hukuman ? mengapa keringanan hukuman dilakukan dengan pencitraan ? Kita tidak tahu dan tidak perlu menghakimi orang yang doyan seks bebas dan kena sidang tiba tiba memakai simbol agama, anggap saja itu sebagai pintu pertobatan, semoga dia benar benar mencitrakan dirinya jika sudah dipenjara, tapi kalau dihukum mati ya maaf, pencitraan akan berhenti diujung timah panas alias siap siap masuk kuburan dengan cara “dibunuh” algojo regu tembak.

Akhirul kata menutup tulisan ini, pencitran demi pencitraan biasanya karena ada tujuan melakukan sesuatu, entah baik atau buruk bahkan mungkin keduanya, kita ambil sisi positifnya saja, lha wong kita sendiri sering mencitrakan diri kita sebagai orang baik, tapi masih suka bohong dan pelit luar binasa, orang baik kok bohong dan pelit, itu bukan citra orang baik. Marilah kita citrakan diri kita sebaik baiknya, jika kita punya citra, lakukan tindakan nyata. Siapa tahu anda akan mendapatkan giliran jatah Piala Citra Beneran. Semoga

Add comment


Security code
Refresh