yoh

p3m

there

Mengorek Orek Tentang Tukang Cari Muka

14Nov2015

staff

Dalam sehari hari kita mengenal berbagai macam tukang, istilah tukang sendiri dalam khasanah bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang mengetahui seluk beluk pekerjaannya atau mungkin orang yang ahli dalam pekerjaanya. Ada banyak di dunia ini soal profesi yang namanya tukang, ada tukang bakso yang kerjanya menjual bakso, ada tukang batu yang pekerjaannya membuat bangunan dengan mencampur semen, pasir, batu, batu bata tanpa melakukan perbuatan “lempar batu sembunyi tangan”. Tukang kayu, yang kerjanya membuat perabotan dari kayu seperti meja, kursi, atau lemari tanpa melakukan “main kayu” pada pelanggannya. Dari sekian tukang tukang tersebut yang paling asyik diulas adalah tukang cari muka.

Dalam dunia pekerjaan banyak beragam jenis manusia, ada yang berasal dari manusia yang memang sudah sononya jujur adil dan makmur, apa adanya, mau naik pangkat apa tidak, bukan urusannya karena dia merasa tempat kerja bukan kepunyaan bapaknya, tapi anehnya tetap tidak tenang jika gajinya tidak naik naik. Mungkin seiring beban ekonomi yang meningkat, takut kena sindrom “gegedhen empyak kurang cagak”. Ada juga yang bekerja apa adanya, namun banyak tuntutan alias tukang ngeles, dan yang lebih parah adalah tukang cari muka, tidak pernah bekerja tapi terlalu banyak mencari perhatian demi popularitas dirinya yang hipokrit itu. Tukang cari muka ternyata juga merangkap jabatan tukang tukang lain yang dikonotasikan secara negatif, yang diperlakukan dengan tidak hormat pada profesi yang sama sama menganut dunia pertukangan itu.

Diantara sekian tubuh manusia, yang paling mahal adalah muka, bukan masalah ganteng atau cantiknya entah hasil polesan bedak atau hasil operasi bedah plastik tas kresek, muka merupakan cerminan dalam diri manusia yang bisa tampak dari luar. Orang berwajah cemberut, hatinya sedang cemberut, gondok, kesal, marah, atau sedih. Orang yang menang lotre atau togel akan berseri seri wajahnya. Namun ada pula orang yang wajah dan mukanya cerah namun hatinya sedang berduka, ini contoh orang yang tegar seperti pagar yang kuat diterjang puting beliung. Makanya wajah atau muka merupakan cerminan dari isi hati manusia yang susah untuk ditipu, jika tidak percaya silakan tanyakan simbah anda. Sayangnya dalam dunia “per-muka-an”, sering disalahgunakan oleh tukang cari muka. Dia bersikap bak orang keraton, tapi hatinya luar biasa tega untuk mengorbankan orang lain sebagai tumbal atau wadal. Orang seperti ini luar biasa berbahaya dibanding tukang korupsi.

Tukang cari muka dalam melakukan aksinya akan selalu melancarkan tipu muslihat, akal bulus, cipoa dan sebangsanya, dia juga menghalalkan segala macam cara, apapun dia lakukan sampai menjilat pantat atasannya tak akan pernah malu melakukan. Setiap pekerjaan yang dilaporkan akan dipoles sana sini, digincu ini itunya padahal isinya terkesan badutan. Tukang cari muka merupakan golongan manusia hipokrit, pahlawan kesiangan. Tukang cari muka adalah orang yang takut gagal, padahal dia menipu diri sendiri sudah gagal sebelum mendapatkan muka. Dia melakukan “pelacuran” dirinya sendiri kepada pelaku sistem yang lebih atas demi menyelematkan kariernya yang sudah mentok atau rusak.

Tukang cari muka selalu menganggap dirinya bak konglomerat paling kaya, tidak mau mengakui dirinya kere paling miskin, dia akan selalu menutupi kekurangan, sialnya untuk menutupi kekurangan itu dia menutupi dengan kekurangan juga. Akibatnya bisa ditebak jenis manusia semacam ini. Banyak alasan yang dikemukakan jika mendapatkan tugas dan perintah. Dia jenis manusia suka melemparkan tanggung jawab dan tak segan merangkap jabatan tukang batu yang melakukan “lempar batu sembunyi tangan” dan juga sebagai tukang kayu yang suka “main kayu” pada rekan kerjanya, bawahannya, dia hanya hormat pada yang lebih tinggi karena takut dinilai jelek. Bersikap manis dan pura pura hormat padahal mengincar jabatan yang lebih atas, jika perlu dengan cara dijegal.  Dia suka menganggap pekerjaan orang lain diaku aku sebagai pekerjaanya sendiri, dia sendiri yang merasa paling berjasa dalam pekerjaanya padahal dia banyak bicara tidak mau bekerja, dia lebih parah dibanding orang NATO ( No Action Talk Only ).

Jenis manusia ini tidak pernah mengenal kata “dosa”. Yang dianggap orang jujur sebagai “dosa” bagi dia sudah bukan “dosa” lagi tapi sebagai hobi karena hatinya berjiwa maling, culas, pendengki, iri hati. Repotnya dia pintar memasang muka jenis apa saja sampai yang “nyebahi” tur “njelehi” sekalipun, sehingga orang yang dikerjai tidak pernah merasa dikadali, dari tukang badut dia mampu berperan, bahkan muka badak pun sanggup dia perankan. Pujangga terkenal Ronggowarsito pernah berpesan : jaman edan, sopo sing ora ngedan ora bakal keduman, namun betapapun nikmatnya orang yang ikut ikutan edan, lebih nikmat orang yang tidak ikut ikutan edan. Inilah yang mendasari banyak orang menjadi tukang cari muka.

Orang yang bersikap manis dan kepura puraan belum tentu dikategorikan sebagai tukang cari muka, ada kalanya kita memakai muka yang lain, namun dalam kasus ini bersikap personal tanpa bermaksud “ada udang dibalik bakwan”. Sebagai contoh kita sedang tidak suka menerima tamu, namun sang tamu datang menganggu, saat itulah kita akan berusaha menyembunyikan muka asli kita tanpa bersikap hipokrit berlebihan, karena ini lebih kepada dunia kesopansantunan atau tata tertib internasional yang berlaku secara global dalam hal menerima tamu. Dua duanya sama sama hipokrit, sang tamu minta maaf karena sudah mengganggu “maaf menganggu”, kalau ngomongnya sama preman terminal sudah digasak. Sedangkan tuan rumah menjawab “nggak apa apa, saya tidak merasa terganggu”, padahal dia benar benar terganggu.

Jadi so, kadang kita memerlukan muka lain untuk suatu kepentingan, namun tidak didasari “ada udang dibalik rempeyek”. Tidak ada agenda tersembunyi seperti halnya anggota DPR. Kita melakukan peran itu karena keterpaksaan yang direlakan dengan lapang dada dan kita mengakui bahwa itu demi kebaikan bersama.

 

Add comment


Security code
Refresh