Pengertian Spontan Mental Tempe

14Nov2015

tempemental

Tempe merupakan makanan khas tradisional jawa, bahkan mungkin Indonesia secara umum selain nasi. Khasiat tempe mengandung banyak protein, lemak dan karbohidrat, komposisinya bukan menjadi urusan kita untuk menghitungnya, namun tempe bisa sebagai daging jika uang anda cekak, kaum kere atau memang vegetarian, tidak suka daging atau iwak ( bahasa jawa ) kecuali “iwak lanang” atau  “iwak wadon”, kalau yang kedua terakhir ini mah sudah bukan untuk dimakan tapi dinikmati.

Kalau menelusuri dari kadar tempe memang bergizi, apalagi tempe itu bahan bakunya kedelai, bahkan kedelai dari amerika. Jadi makan tempe sama sama memakai produk amerika. Sayangnya jika istilah tempe ini digabungkan dengan mental, artinya akan menjadi tidak karuan, terkesan melecehkan kandungan tempe itu sendiri.

Mental tempe adalah sikap tidak berani menghadapi lawan, artinya lebih cenderung sebagai seorang pengecut, terus kenapa tempe menjadi bahan perendahan kadar kualitasnya, padahal tempe itu kandungan gizinya tinggi, sekali lagi, jika tempe begitu bertemu dengan “mental” menjadi jatuh tak karuan artinya. Luar binasa ember sekali.

Tempe merupakan makanan khas rakyat kecil, jarang jarang orang kaya itu makan namanya tempe, kalau nggak hamburger, steak, bistik, tongseng, sate, gule, sop, barbeku dan lain lain yang mengandung daging, terpaksa tempe disisakan untuk orang miskin. Biasanya orang miskin gemar makan tempe, karena tempe merupakan satu satunya komoditas rakyat yang paling murah dan terjangkau. Sehingga begitu dikatakan mental tempe identik dengan mental murahan, dikit dikit ngambek, dikit dikit protes, dikit dikit mogok.

Tempe itu makanan yang membosankan, begitu kata orang, saban hari makan tempe akan terkesan males, ogah ogahan kecuali orang yang benar benar kere, duitnya hanya cukup untuk membeli tempe, apalagi tempe yang dimakan semua tempe basi, tempe kemaren. Tidak ada tempe hari ini, semua tempe adalah kemaren, hari ini kedelai besok baru tempe.

Dari masanya saja, kemaren ! orang bermental tempe adalah bermental kemaren, tidak berani, penakut, hanya berani ketika lawan sudah pergi. Apalagi bermental tempe bosok, sudah mental murahan busuk lagi, memalukan sekali. Orang bermental tempe akan mudah patah semangat, satu kali kegagalan akan menjadi sebuah trauma.

Sebenarnya penggunaan istilah “mental tempe” merupakan pelecehan dari tempe itu sendiri, jika boleh memilih dari sisi kesehatan tempe lebih higiens dan lebih sehat dibanding daging, apalagi jika banyak beredar daging glongongan yang artinya daging sapi ketika sebelum disembelihnya sapinya diberi air minum secara paksa alias dibuat mabuk. Tujuan dengan memberi sapi minum sebanyak banyak merupakan akal akalan agar daging sapi lebih berat, sehingga harga jualnya menjadi lebih tinggi karena ada air yang melimpah di daging itu sendiri.

Menjadi orang bermental tempe bukan merupakan cita cita banyak orang, padahal bermental tempe apalagi dikonotasikan secara negatif akan terkesan melecehkan, padahal tempe merupakan makanan sehat, malah lebih sehat dari pada daging. Tidak ada yang mau mengakui orang bermental tempe sekalipun tempe itu bergizi, karena tempe itu murahan, sampai kapanpun harga tempe naik mengalahkan daging, tetap saja mental tempe merupakan sebuah perendahan kualitas manusia, sudah stigma memang sangat susah dikembalikan ke artinya yang lebih positif. Selamat tidak bermental tempe !

Add comment