Sejenak Bijak Dengan Krisis Pedesaan

14Nov2015

village

Krisis secara umum disebut antara ketersediaan dengan permintaan timpang, secara terminologis, krisis lebih mengacu dalam hal kekurangan, keterbatasan atau apapun namanya berafiliasi pada ketidakberadaan pada posisi obyek atau targetnya, jika ketersediaan teratasi sedang kebutuhan turun itu sudah bukan namanya krisis tapi penumpukan. Krisis bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, dia datang tidak diundang, pergi pun tidak perlu pamitan, seperti maling di malam hari, krisis bisa berbentuk barang, uang, bahkan yang tidak berbentuk sama sekali seperti halnya suatu yang abstrak. Krisis kepercayaan merupakan sebuah krisis terhadap suatu yang diyakini sebagai pegangan hidupnya, bahkan mungkin kisah seorang germo mengalami krisis stok cewek bispak. Dan desapun juga mengalami krisis secara dimensional, tak pelak krisis desa menjadi sebuah krisis bangsa. Krisis krisis pedesaan bisa dibagi menjadi krisis lahan pertanian, krisis personal dan krisis budaya.

Krisis Lahan Pertanian

Setiap tahun lahan pertanian pasti akan berkurang namun kebutuhan pangan meningkat, akibatnya petani yang mempunyai lahan yang tidak kena gusur beban produksi pangan menjadi meningkat jika dihitung secara matematis. Tuntutan demi tuntutan pangan disuarakan namun pemerintah tidak pernah memberdayakan petani. Yang ada adalah regulasi impor beras, impor gula, impor lombok yang justru malah mematikan peran petani itu sendiri, bahkan yang tidak ketinggalan adalah impor cewek menjadi artis blasteran.  Seolah pembadut negeri ini tutup mata, dari petani tidak mendapatkan apa apa, namun dengan cara impor beras, impor lombok pembadut pemerintah akan mendapatkan fee baik secara resmi maupun tidak resmi yang biasa disebut, korupsi, manipulasi, markup, kongkalikong, menyunat anggaran atau apalah namanya yang penting bisa untuk menggendutkan perutnya sendirinya, perut istri dan anaknya. Yang paling parah adalah pengurangan lahan pertanian untuk kebutuhan perumahan, mall, sirkuit, pabrik. Akibat krisis lahan seperti itu maka timbulah jeritan petani.

“Kau kurangi lahan sawahku yang subur, kau tuntut aku penuhi kebutuhan panganmu “

“Bungahmu- laraku, guyumu - tangisku “

“Negara agraris kok impor beras ?”

“Tak gawe apik  lhe nandur opo piwalesmu ?”

Suara suara jeritan tersebut merupakan sebuah usaha untuk mencoba melawan ketidakadilan sosial yang dilakukan pemerintah terutama dalam pengurangan lahan sawah, bahkan sering kali penggusuran itu justru pada lahan produktif. Seolah gampang pemerintah setempat untuk menggolkan peralihan lahan pertanian menjadi lahan beton. Iming iming uang besar pada petani menjadi silau, menjadi buta, bahwa uang bisa membelinya segalanya, termasuk membeli cewek sekalipun, begitulah kalau orang sudah dijajah oleh uang.

Lahan pertanian di pulau Jawa setiap tahun berkurang 27 ribu hektar, jumlah yang luar biasa untuk menghasilkan produksi pangan, pertanian menjadi tergerus sehingga impor menjadi sebuah komoditas yang wajib dilakukan. Namanya di negeri cotsoe ini, mana ada pemerintah peduli pada petani, mereka peduli pada kelompoknya sendiri. Entah sampai kapan negeri ini pemerintahnya tidak cotsoe lagi.

Krisis Personal

Krisis personal merupakan krisis yang terjadi di desa, krisis ini lambat laun mengikis peran petani, seperti tulisan saya, Bersama Wong Ndeso Menggapai Damai Dan Ceria. Seperti biasa, petani pun selalu berharap anaknya menjadi orang sukses, orang penting, kalau perlu menjadi presiden. Harapan demi harapan datang tidak tanpa alasan, pasti ada alasan yang membuat pak petani enggan menyuruh anaknya meneruskan profesi mulianya itu, menyediakan pangan bagi manusia. Tidak mudah menjadi petani, lebih mudah menjadi tukang copet katanya. Menjadi petani itu menganut filosofi tertentu tidak semudah anda duga, sedang menjadi pencopet hanya modal akal dan kegesitan serta kerja sama dengan komplotannya.

Sekarang ini lebih parah lagi, ada sebuah desa yang awalnya merupakan sentra pertanian dan selalu mengekspor hasil pangan ke kota. Namun karena godaan uang, godaan kehidupan hedonis yang menyilaukan, entah siapa dalang atau setannya yang mengubah desa itu tidak lagi mengekspor hasil pangan, tapi mengekspor kaum hawanya sebagai mayoritas komoditi, tak lain mengekspor penduduknya menjadi babu di negeri orang, tampaknya menjadi babu menjadi suatu yang tidak aneh lagi bagi penduduk desa, dan alasannya pun juga bisa diterima dengan logika “Mendingan jadi babu di negeri orang, dari pada di negeri sendiri menjadi lonte, di Indonesia itu semuanya harus dibeli dengan uang, termasuk membeli cewek sekalipun”.  Nampaknya jargon “Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” benar benar dipegang teguh, sehingga kaum desa yang siap minggat ke negeri orang itu menghindari pameo yang agak mirip “Sugih tanpo bondo, mangan tanpo bayar”.

Mereka ingin kaya secara materi, bukan kaya dalam arti yang selama ini kita sok idealis, kekayaan yang terbesar ada dalam diri kita,yaitu otak dan hati, Ah omong kosong “Aku pilih bodoh tapi sugih”. Ini sudah tuntutan jaman, andaikata anda disodori bekerja di bidang lain yang bergaji besar apakah anda akan meninggalkan pekerjaan lama ? Uang menjadi sebuah daya tarik, namun masih ada sisa orang waras, bahkan uang bukan segalanya, karena orang ini seperti sudah dianggap “gila”. “Orang gila di pinggir jalan saja tidak punya uang saku bisa makan, masak aku yang masih waras tidak bisa makan, ngapain nyari makan sampai ke negeri jauh”. Nah lho siapa yang salah. Rejeki bisa di mana saja asal kita mau mencarinya.

Tak pelak eksodus besar besaran dari kantong desa menjadi babu di negeri orang, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya tak lain kena kasus bermacam macam, dari kekerasan sampai pembunuhan, untuk menjadi kaya memang tidak mudah, namun menjadi miskin juga bukan pilihan. Eksodus itu akhirnya membuat stok penduduk desa menjadi berkurang, sehingga sawah ladang yang luas tidak ada yang mengerjakan sehingga dijual dan masalahnya kembali ke krisis lahan pertanian.

Krisis Budaya Desa

Butuh pembahasan hal yang khusus jika krisis pedesaan merambah ke krisis budaya, namun saya akan membatasi secara singkat. Budaya desa merupakan jiwa dan esensi dari desa itu sendiri, budaya desa bukan budaya ndeso yang biasa anda sebut. Budaya desa bukan budaya dekil, ndesit, kampungan, ketinggalan jaman. Budaya desa adalah budaya jiwa bangsa, saya pernah mengulas tentang ajaran luhur pedesaan, budaya desa sebagai jiwa pancasila, sila sila yang ada di pancasila semuanya menganut kultur pedesaan, tidak mungkin Pancasila mengakomodasi budaya perkotaan. Kota yang bobrok tidak bisa mengakomodasi kebutuhan manusia, hanya desalah yang bisa menjadi sebuah tolok ukur, karena di sanalah kemurnian budaya masih tersisa.

Namun budaya desa itu semakin terkikis dengan majunya jaman, kebudayaan yang adi luhung itu kini hanya menjadi milik sebagian orang tua, generasi muda lebih menyukai gaya persuasif facebook di banding gaya persuasif unggah ungguh. “Pokoke update status, biarpun melankolis, jika perlu alay sekalian”. Handphone canggih sekarang sudah merasuk sampai desa desa, bahkan seorang petanipun ke sawah membawa hanpdhone untuk berbusa busa dalam bertransaksi hasil pertaniannya.

Kini budaya desa, seperti pentas wayang kulit, gending, jatilan, ketoprak semakin langka, seolah olah semua itu ditelan oleh majunya jaman, seolah olah bahwa dengan majunya jaman budaya yang adi luhung itu disingkirkan, ketika menyesali semuanya sudah terjadi yang ada adalah mencoba reinkarnasi. Kita menjadi rindu akan pukulan bonang, tabuhan gendhang, atau suara seruling di tengah sawah, anak anak sekarang juga jarang diajarkan untuk mengenal budayanya sendiri, lebih mudah memberikan handphone dari pada belajar karawitan.

Namun kita harus berupaya, kita juga tidak memungkiri, jika suatu budaya tidak dibutuhkan jangan dipaksa karena justru malah menjadi beban, budaya adalah suatu hal yang berkembang, selalu berubah dan selalu bermanifestasi, bahkan juga berinkarnasi dalam bentuk lain.

Add comment