yoh

p3m

there

Terminologi Antara Bajing Dengan Bajingan

14Nov2015

bajing

Kembali kita belajar apa itu terminologi, ilmu tentang kata, istilah, terkadang kata atau istilah yang seringkali kita gunakan jika dirunut tidak nyambung sama sekali. Menurut kamus kelirumologi semakin tidak nyambung semakin baik. Maka kali ini saya akan menulis tentang sebuah kata yang terkesan, ya anggap saja “kasar”. Saya bukan preman, juga bukan bajingan, juga bukan “bajing” yang suka melompat lompat yang akhirnya terjatuh juga. Jika tulisan saya ini tidak berkenan pada diri anda, segera tutup blog ini tanpa mencela, tanpa menghina, karena blog ini sering mengulas hal hal yang berhubungan budaya, baik itu budaya latah, budaya cotsu, budaya hedonis, budaya lokal, budaya budaya lain. Jika saya mengulas kata kata berbau makian karena saya tertarik dengan terminologinya, asal usalnya, budayanya, dan juga mungkin filosofinya. Sebuah kata atau istilah akan bermakna jika dipandang dan dinilai. Jika saya bicara terminologi anda sudah berprasangka ini soal dunia bajingan, kalau iya, maka anda memang benar benar bajingan.

Kita ulas sejenak tentang siapa saudara kita bernama bajing. Istilah bajing dikenal dari pergaulan bahasa jawa. Hewan bajing suka hidup di atas pohon, terutama pohon yang tinggi untuk mencari makanan, seperti buah buahan, karena pada posisi di atas pohon tinggi hewan bajing ini susah diburu. Cara kerja bajing itu suka berpindah pindah dengan cara meloncat antar pohon, terkadang ada bajing terjatuh dari pohon yang tinggi, ada yang tersangkut ranting daun dan selamat, ada pula yang menjadi almarhum sampai berdebam di tanah dengan kepala pecah berlumuran darah. Bajing suka mencuri buah buahan kepunyaan kita, mereka gesit sekali berpindah tempat jika diburu  manusia, ada kalanya mereka ditangkap namun ada kalanya dibiarkan saja. Terkadang orang sering menyamakan tupai dengan bajing, secara ilmu biologi sebenarnya berbeda.

Sekarang kita runut ke sebuah komunitas bernama parasit masyarakat, penyakit masyarakat, golongan orang yang suka mabuk mabukan, berjudi, main perempuan, main laki, memalak, menjambret, maling, tukang tipu tipu, kaum brengsek, suka berantem tanpa sebab [termasuk melawan tembok], kaum hedonis, tamak dan teruskan sendiri. Golongan orang orang itu terkesan sering dicap sebagai kaum bajingan. Cara kerja mereka bak bajing loncat, berpindah pindah untuk mendapatkan hasil palakan. Modus operandinya seperti hewan bajing maka dicap sebagai bajingan, agar mirip atau sengaja dipaksakan mirip walaupun tidak mirip sama sekali. Seekor bajing tidak sama dan tidak mirip blas dengan seorang bajingan. Yang satu seuprit, yang satunya preman berbadan besar terkadang berwajah seram seperti Maha Patih Gajah Mada.  Yang ada dipaksakan agak mirip cuma satu, terkadang ada kaum bajingan terjatuh karena suatu hal, misal dikeroyok massa dengan hadiah bogem mentah, kena target polisi. Hanya itu saja yang dipaksa agak mirip, saya katakan dipaksa agak mirip, kalau bajing benar benar jatuh dari pohon tinggi, sedang bajingan biasanya tersungkur ke tanah tertembus timah panas dari pistol pak polisi. Jarang ada bajingan tertembak di atap kemudian jatuh, lagian bajing jatuhnya juga karena kecerebohan dirinya sendiri.

Stigma itu sebenarnya sangat merugikan kaum bajing, mereka sebenarnya hewan predator, teman manusia juga, sedang bajingan sudah menjadi musuh banyak orang. Salah siapa coba ? kitalah yang memberi cap, memberi stigma. Masyarakat gampang menuduh, gampang memfitnah dan gampang terhasut.

Mustinya kaun hewan bajing protes, kenapa nama mereka dipakai untuk kaum jahat, orang brengsek, begundal dan lain lain. Padahal mereka hanya mencari makan saja dan sudah digariskan oleh sang pecipta suka mencuri. Sudah kodratnya mereka menjadi “maling” yang tidak menimbulkan kerugian sampai milyaran. Beda dengan kaun bajingan, mereka gemar maling, gemar berantem dengan orang lain, gemar memalak. Padahal kodrat manusia itu adalah berbuat baik, namun entah karena desakan ekonomi, atau karena terpaksa dan ada kalanya sengaja dipaksakan.

Jika dirunut dalam bahasa Inggris misalnya, kata bajingan berasal dari “villain”, sedang bajing itu bahasa Inggrisnya chipmunk, sayangnya bahasa Inggris tidak mengenal imbuhan an, maka penamaan chipmunk-an itu sudah sangat ngawur dalam kaidah terminologi, beda budaya, beda penyebutan dan namanya, lain lubuk lain ikannya. So, jadi cukup sekian tulisan tentang bajingan ini, semoga anda tidak menjadi bajingan setelah membaca terminologi tentang bajingan ini. Semoga !

Add comment


Security code
Refresh