yoh

p3m

there

The Beginning With Omdo / NATO

14Nov2015

nato

Biasanya orang yang berbusa busa tanpa melakukan tindakan yang terarah dan kena sasaran selalu dianggap sebagai omdo. Omdo itu apa sih ? Omdo merupakan kependekan dari “omong dowang” atau dalam bahasa jawa “omong thok”. Budaya omdo ini sudah merasuk dalam orang yang tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, tukang mencari muka, lebih lebih para politikus kita paling banyak melakukan omdo. Bicara memang gampang namun bertindak atau beraction tidak mudah, sebagai contoh  dalam hal bekerja, kita sudah capek capek kerja masih saja diomeli, kita sudah merasa beres namun dianggap tidak beres.

Sayangnya kebanyakan omdo itu sudah bersifat negatif, padahal tidak semua omdo itu buruk, omdo bisa dikatakan sebagai teori sebelum melakukan tindakan nyata, omdo bisa berarti tesis bahkan antitesis. Terkadang banyak di antara kita menyepelekan omdo, banyak juga sarjana S1 atau S2 hasil omdo. Tukang pidato pun juga termasuk omdo, presenter berita yang cantik di teve juga omdo, pak guru, ibu guru, pak dosen atau ibu dosen pun tremasuk paling demen beromdo ria, kehidupan mereka banyak diselimuti dan dipenjara dalam dunia bernama omdo. Mereka merupakan anggota keluarga “peromdoan”, dalam keluarga itu dibagi dua aliran, omdo positif, omdo negatif.

Ada teori ada praktek itu merupakan contoh yang ideal. Teori dowang belum tentu buruk. Semua orang sebelum melakukan sesuatu pasti akan teori dulu, omdo dulu. Bila teori belum matang, orang yang bijak akan berpikir dewasa akan penuh perhitungan, omdo akan dijadikan sebagai wacana sebagai bahasan yang dibuat dan dipermak sana sini agar tidak terkesan omdo banget. Tujuannya agar orang bisa berintelektualitas atau berpikir dalam berwacana.

Sayangnya bagi yang bersikap negatif, omdo akan dianggap sebagai sebuah retorika atau berpolitik, hamtam sana hamtam sini. Tujuan omdonya adalah mempengaruhi atau bahkan membuat orang sesat semakin tersesat, membuat orang tolol semkin tolol dalam bahasa saya : goblokisasi. Semakin tinggi tingkat omdonya semakin sakti namun akan semakin : tong kosong berbunyi glondhang glondhang. Mereka punya prinsip : Omdo is the best, bahkan omdo akan menjadi awal sebuah perjuangan, The beginning with omdo. Akibatnya omdo model begini akan menjadi debat kusir tidak berkesudahan, bertele tele, menghabiskan waktu dan konsumi belaka.

Biasanya golongan ini seperti ngomong tanpa dipikir terlebih dahulu, alias waton muni alias cotsu ( maaf : cocot asu ). Demikian pula sebaliknya ketika mendapat omdo dari pihak lain akan dijawab tanpa dicerna terlebih dahulu alias waton jeplak, asal nyangkut. Inilah yang disebut dengan debat kusir tidak ada ujung pangkalnya, bisa saja dikategorikan ngomong tidak nyambung, karena menjawab di dunia peromdoan, semakin tidak nyambung semakin baik, itu anggapan yang keliru.

Jadi omdo itu tetap ada batasannya, ada kategorinya, tidak semua omdo itu buruk, sebagai contoh misalnya omdo yang terkesan lucu, bapak anda melarang anda merokok, tapi bapak anda merokok, ini tremasuk omdo juga, tapi saya yakin anda tidak bakalan mengecap bapak anda tukang omdo, itu sungguh terlalu namanya. Mungkin pikiran bokap anda, merokok hanya khusus orang dewasa, sedang anda masih sekolah. Jadi anda harus menerima omdo tersebut sebagai sebuah nasehat, sebagai sikap kebapakan yang nyleneh.

Ada yang lebih nyleneh adalah oknum oknum partai, mereka kerjanya cuma omdo. “Katakan tidak pada korupsi” tapi nyatanya korupsi. Mereka kerjanya cuma rapat dan jalan jalan ke luar negeri, ketika melihat lawan politik melakukan yang benar benar untuk rakyat, malah dikatakan sebagai pecitraan. Jadi kalau kita korupsi  mendingan diam saja, biar KPK yang menangkap dan memenjarakan kita. Oknum oknum partai seperti itu namanya “maling teriak maling”.

Jadi so bagi kita, omdo tetaplah penting, segala sesuatu dimulai dengan omdo alias “The beginning with omdo”, presiden berpidato atau beromdo maka kebijakan akan diubah, terserah kebijakan itu menguntungkan rakyat atau tidak, itulah namanya efek dari omdo. Entah sudah berapa jutaan omdo yang keluar dari pejabat, politikus, monotikus soal peromdoan, semuanya memberikan warna pada negeri ini, ada omdo yang bikin bobrok, ada juga omdo yang menyejukan. Kadang kala omdo bisa diibaratkan “nyanyi” “kritis” “protes” dan lain lain.

Mari kita beromdo dengan baik, omdo yang  menumbuhkan kreatifitas, omdo yang berdialektika positif, omdo yang berintelektualitas. Tanpa omdo tidak bakalan ada praktek, segala sesuatu dimulia dengan omdo sebagai buah pikiran manusia, bahkan Tuhan pun juga beromdo, Omdo Suci alias bersabda / berfirman. Semoga

 

Add comment


Security code
Refresh