Humoriana

Terminologi Antara Bajing Dengan Bajingan

14Nov2015

chipmunk

Kembali kita belajar apa itu terminologi, ilmu tentang kata, istilah, terkadang kata atau istilah yang seringkali kita gunakan jika dirunut tidak nyambung sama sekali. Menurut kamus kelirumologi semakin tidak nyambung semakin baik. Maka kali ini saya akan menulis tentang sebuah kata yang terkesan, ya anggap saja “kasar”. Saya bukan preman, juga bukan bajingan, juga bukan “bajing” yang suka melompat lompat yang akhirnya terjatuh juga. Jika tulisan saya ini tidak berkenan pada diri anda, segera tutup blog ini tanpa mencela, tanpa menghina, karena blog ini sering mengulas hal hal yang berhubungan budaya, baik itu budaya latah, budaya cotsu, budaya hedonis, budaya lokal, budaya budaya lain. Jika saya mengulas kata kata berbau makian karena saya tertarik dengan terminologinya, asal usalnya, budayanya, dan juga mungkin filosofinya. Sebuah kata atau istilah akan bermakna jika dipandang dan dinilai. Jika saya bicara terminologi anda sudah berprasangka ini soal dunia bajingan, kalau iya, maka anda memang benar benar bajingan.

Kita ulas sejenak tentang siapa saudara kita bernama bajing. Istilah bajing dikenal dari pergaulan bahasa jawa. Hewan bajing suka hidup di atas pohon, terutama pohon yang tinggi untuk mencari makanan, seperti buah buahan, karena pada posisi di atas pohon tinggi hewan bajing ini susah diburu. Cara kerja bajing itu suka berpindah pindah dengan cara meloncat antar pohon, terkadang ada bajing terjatuh dari pohon yang tinggi, ada yang tersangkut ranting daun dan selamat, ada pula yang menjadi almarhum sampai berdebam di tanah dengan kepala pecah berlumuran darah. Bajing suka mencuri buah buahan kepunyaan kita, mereka gesit sekali berpindah tempat jika diburu  manusia, ada kalanya mereka ditangkap namun ada kalanya dibiarkan saja. Terkadang orang sering menyamakan tupai dengan bajing, secara ilmu biologi sebenarnya berbeda.

Sekarang kita runut ke sebuah komunitas bernama parasit masyarakat, penyakit masyarakat, golongan orang yang suka mabuk mabukan, berjudi, main perempuan, main laki, memalak, menjambret, maling, tukang tipu tipu, kaum brengsek, suka berantem tanpa sebab [termasuk melawan tembok], kaum hedonis, tamak dan teruskan sendiri. Golongan orang orang itu terkesan sering dicap sebagai kaum bajingan. Cara kerja mereka bak bajing loncat, berpindah pindah untuk mendapatkan hasil palakan. Modus operandinya seperti hewan bajing maka dicap sebagai bajingan, agar mirip atau sengaja dipaksakan mirip walaupun tidak mirip sama sekali. Seekor bajing tidak sama dan tidak mirip blas dengan seorang bajingan. Yang satu seuprit, yang satunya preman berbadan besar terkadang berwajah seram seperti Maha Patih Gajah Mada.  Yang ada dipaksakan agak mirip cuma satu, terkadang ada kaum bajingan terjatuh karena suatu hal, misal dikeroyok massa dengan hadiah bogem mentah, kena target polisi. Hanya itu saja yang dipaksa agak mirip, saya katakan dipaksa agak mirip, kalau bajing benar benar jatuh dari pohon tinggi, sedang bajingan biasanya tersungkur ke tanah tertembus timah panas dari pistol pak polisi. Jarang ada bajingan tertembak di atap kemudian jatuh, lagian bajing jatuhnya juga karena kecerebohan dirinya sendiri.

Stigma itu sebenarnya sangat merugikan kaum bajing, mereka sebenarnya hewan predator, teman manusia juga, sedang bajingan sudah menjadi musuh banyak orang. Salah siapa coba ? kitalah yang memberi cap, memberi stigma. Masyarakat gampang menuduh, gampang memfitnah dan gampang terhasut.

Mustinya kaun hewan bajing protes, kenapa nama mereka dipakai untuk kaum jahat, orang brengsek, begundal dan lain lain. Padahal mereka hanya mencari makan saja dan sudah digariskan oleh sang pecipta suka mencuri. Sudah kodratnya mereka menjadi “maling” yang tidak menimbulkan kerugian sampai milyaran. Beda dengan kaun bajingan, mereka gemar maling, gemar berantem dengan orang lain, gemar memalak. Padahal kodrat manusia itu adalah berbuat baik, namun entah karena desakan ekonomi, atau karena terpaksa dan ada kalanya sengaja dipaksakan.

Jika dirunut dalam bahasa Inggris misalnya, kata bajingan berasal dari “villain”, sedang bajing itu bahasa Inggrisnya chipmunk, sayangnya bahasa Inggris tidak mengenal imbuhan an, maka penamaan chipmunk-an itu sudah sangat ngawur dalam kaidah terminologi, beda budaya, beda penyebutan dan namanya, lain lubuk lain ikannya. So, jadi cukup sekian tulisan tentang bajingan ini, semoga anda tidak menjadi bajingan setelah membaca terminologi tentang bajingan ini. Semoga !

 

Sejenak Bijak Dengan Krisis Pedesaan

14Nov2015

village

Krisis secara umum disebut antara ketersediaan dengan permintaan timpang, secara terminologis, krisis lebih mengacu dalam hal kekurangan, keterbatasan atau apapun namanya berafiliasi pada ketidakberadaan pada posisi obyek atau targetnya, jika ketersediaan teratasi sedang kebutuhan turun itu sudah bukan namanya krisis tapi penumpukan. Krisis bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, dia datang tidak diundang, pergi pun tidak perlu pamitan, seperti maling di malam hari, krisis bisa berbentuk barang, uang, bahkan yang tidak berbentuk sama sekali seperti halnya suatu yang abstrak. Krisis kepercayaan merupakan sebuah krisis terhadap suatu yang diyakini sebagai pegangan hidupnya, bahkan mungkin kisah seorang germo mengalami krisis stok cewek bispak. Dan desapun juga mengalami krisis secara dimensional, tak pelak krisis desa menjadi sebuah krisis bangsa. Krisis krisis pedesaan bisa dibagi menjadi krisis lahan pertanian, krisis personal dan krisis budaya.

Krisis Lahan Pertanian

Setiap tahun lahan pertanian pasti akan berkurang namun kebutuhan pangan meningkat, akibatnya petani yang mempunyai lahan yang tidak kena gusur beban produksi pangan menjadi meningkat jika dihitung secara matematis. Tuntutan demi tuntutan pangan disuarakan namun pemerintah tidak pernah memberdayakan petani. Yang ada adalah regulasi impor beras, impor gula, impor lombok yang justru malah mematikan peran petani itu sendiri, bahkan yang tidak ketinggalan adalah impor cewek menjadi artis blasteran.  Seolah pembadut negeri ini tutup mata, dari petani tidak mendapatkan apa apa, namun dengan cara impor beras, impor lombok pembadut pemerintah akan mendapatkan fee baik secara resmi maupun tidak resmi yang biasa disebut, korupsi, manipulasi, markup, kongkalikong, menyunat anggaran atau apalah namanya yang penting bisa untuk menggendutkan perutnya sendirinya, perut istri dan anaknya. Yang paling parah adalah pengurangan lahan pertanian untuk kebutuhan perumahan, mall, sirkuit, pabrik. Akibat krisis lahan seperti itu maka timbulah jeritan petani.

“Kau kurangi lahan sawahku yang subur, kau tuntut aku penuhi kebutuhan panganmu “

“Bungahmu- laraku, guyumu - tangisku “

“Negara agraris kok impor beras ?”

“Tak gawe apik  lhe nandur opo piwalesmu ?”

Suara suara jeritan tersebut merupakan sebuah usaha untuk mencoba melawan ketidakadilan sosial yang dilakukan pemerintah terutama dalam pengurangan lahan sawah, bahkan sering kali penggusuran itu justru pada lahan produktif. Seolah gampang pemerintah setempat untuk menggolkan peralihan lahan pertanian menjadi lahan beton. Iming iming uang besar pada petani menjadi silau, menjadi buta, bahwa uang bisa membelinya segalanya, termasuk membeli cewek sekalipun, begitulah kalau orang sudah dijajah oleh uang.

Lahan pertanian di pulau Jawa setiap tahun berkurang 27 ribu hektar, jumlah yang luar biasa untuk menghasilkan produksi pangan, pertanian menjadi tergerus sehingga impor menjadi sebuah komoditas yang wajib dilakukan. Namanya di negeri cotsoe ini, mana ada pemerintah peduli pada petani, mereka peduli pada kelompoknya sendiri. Entah sampai kapan negeri ini pemerintahnya tidak cotsoe lagi.

Krisis Personal

Krisis personal merupakan krisis yang terjadi di desa, krisis ini lambat laun mengikis peran petani, seperti tulisan saya, Bersama Wong Ndeso Menggapai Damai Dan Ceria. Seperti biasa, petani pun selalu berharap anaknya menjadi orang sukses, orang penting, kalau perlu menjadi presiden. Harapan demi harapan datang tidak tanpa alasan, pasti ada alasan yang membuat pak petani enggan menyuruh anaknya meneruskan profesi mulianya itu, menyediakan pangan bagi manusia. Tidak mudah menjadi petani, lebih mudah menjadi tukang copet katanya. Menjadi petani itu menganut filosofi tertentu tidak semudah anda duga, sedang menjadi pencopet hanya modal akal dan kegesitan serta kerja sama dengan komplotannya.

Sekarang ini lebih parah lagi, ada sebuah desa yang awalnya merupakan sentra pertanian dan selalu mengekspor hasil pangan ke kota. Namun karena godaan uang, godaan kehidupan hedonis yang menyilaukan, entah siapa dalang atau setannya yang mengubah desa itu tidak lagi mengekspor hasil pangan, tapi mengekspor kaum hawanya sebagai mayoritas komoditi, tak lain mengekspor penduduknya menjadi babu di negeri orang, tampaknya menjadi babu menjadi suatu yang tidak aneh lagi bagi penduduk desa, dan alasannya pun juga bisa diterima dengan logika “Mendingan jadi babu di negeri orang, dari pada di negeri sendiri menjadi lonte, di Indonesia itu semuanya harus dibeli dengan uang, termasuk membeli cewek sekalipun”.  Nampaknya jargon “Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” benar benar dipegang teguh, sehingga kaum desa yang siap minggat ke negeri orang itu menghindari pameo yang agak mirip “Sugih tanpo bondo, mangan tanpo bayar”.

Mereka ingin kaya secara materi, bukan kaya dalam arti yang selama ini kita sok idealis, kekayaan yang terbesar ada dalam diri kita,yaitu otak dan hati, Ah omong kosong “Aku pilih bodoh tapi sugih”. Ini sudah tuntutan jaman, andaikata anda disodori bekerja di bidang lain yang bergaji besar apakah anda akan meninggalkan pekerjaan lama ? Uang menjadi sebuah daya tarik, namun masih ada sisa orang waras, bahkan uang bukan segalanya, karena orang ini seperti sudah dianggap “gila”. “Orang gila di pinggir jalan saja tidak punya uang saku bisa makan, masak aku yang masih waras tidak bisa makan, ngapain nyari makan sampai ke negeri jauh”. Nah lho siapa yang salah. Rejeki bisa di mana saja asal kita mau mencarinya.

Tak pelak eksodus besar besaran dari kantong desa menjadi babu di negeri orang, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya tak lain kena kasus bermacam macam, dari kekerasan sampai pembunuhan, untuk menjadi kaya memang tidak mudah, namun menjadi miskin juga bukan pilihan. Eksodus itu akhirnya membuat stok penduduk desa menjadi berkurang, sehingga sawah ladang yang luas tidak ada yang mengerjakan sehingga dijual dan masalahnya kembali ke krisis lahan pertanian.

Krisis Budaya Desa

Butuh pembahasan hal yang khusus jika krisis pedesaan merambah ke krisis budaya, namun saya akan membatasi secara singkat. Budaya desa merupakan jiwa dan esensi dari desa itu sendiri, budaya desa bukan budaya ndeso yang biasa anda sebut. Budaya desa bukan budaya dekil, ndesit, kampungan, ketinggalan jaman. Budaya desa adalah budaya jiwa bangsa, saya pernah mengulas tentang ajaran luhur pedesaan, budaya desa sebagai jiwa pancasila, sila sila yang ada di pancasila semuanya menganut kultur pedesaan, tidak mungkin Pancasila mengakomodasi budaya perkotaan. Kota yang bobrok tidak bisa mengakomodasi kebutuhan manusia, hanya desalah yang bisa menjadi sebuah tolok ukur, karena di sanalah kemurnian budaya masih tersisa.

Namun budaya desa itu semakin terkikis dengan majunya jaman, kebudayaan yang adi luhung itu kini hanya menjadi milik sebagian orang tua, generasi muda lebih menyukai gaya persuasif facebook di banding gaya persuasif unggah ungguh. “Pokoke update status, biarpun melankolis, jika perlu alay sekalian”. Handphone canggih sekarang sudah merasuk sampai desa desa, bahkan seorang petanipun ke sawah membawa hanpdhone untuk berbusa busa dalam bertransaksi hasil pertaniannya.

Kini budaya desa, seperti pentas wayang kulit, gending, jatilan, ketoprak semakin langka, seolah olah semua itu ditelan oleh majunya jaman, seolah olah bahwa dengan majunya jaman budaya yang adi luhung itu disingkirkan, ketika menyesali semuanya sudah terjadi yang ada adalah mencoba reinkarnasi. Kita menjadi rindu akan pukulan bonang, tabuhan gendhang, atau suara seruling di tengah sawah, anak anak sekarang juga jarang diajarkan untuk mengenal budayanya sendiri, lebih mudah memberikan handphone dari pada belajar karawitan.

Namun kita harus berupaya, kita juga tidak memungkiri, jika suatu budaya tidak dibutuhkan jangan dipaksa karena justru malah menjadi beban, budaya adalah suatu hal yang berkembang, selalu berubah dan selalu bermanifestasi, bahkan juga berinkarnasi dalam bentuk lain.

 

Tidak Semuanya Damai Itu Indah

14Nov2015

peace

Kita sering mendengar istilah : Damai itu indah, slogan ini banyak kita temukan di markas markas TNI, ya memang tugas TNI adalah menciptakan perdamaian, perang bagi TNI akan dilakukan jika perundingan atau perdamaian gagal. TNI tidak akan asal melakukan peperangan, menyerbu, aneksasi, main caplok ke wilayah negara lain jika tidak ada sebab musababnya. TNI merupakan salah satu ciri kejujuran dalam melakukan tindakan, secara kelembagaan memang iya, namun tidak dihitung dalam kasus oknum per oknum. Jika ada anggota TNI yang membuat krisuh atau masalah itu tidak berarti TNI bermasalah.

Damai adalah keadaan di mana “tanpa masalah”, sengaja di beri tanda kutip, namanya masalah di mana saja tetap ada, bahkan di liang kubur pun tetap ada masalah, namun masalah masalah itu masih dalam koridor perdamaian. Sebagai contoh masyarakat kita memang damai, namun tetap saja ada masalah, seperti jadwal siskamling yang sering banyak absen, atau mungkin yang lebih parah masalah hidup kita sendiri tetap saja kere, utang menumpuk, anak rewel, orang kantor semrawut, kerja sering bolos atau terlambat gara gara macet. Jadi damai itu diibaratkan tanpa konflik yang mengancam persatuan bangsa, barulah itu disebut keadaan damai. Kalau sudah terjadi ancaman disintegrasi bangsa atau saya sebut sebagai persatean bangsa, ditusuk dan dipanggang dalam api perpecahan bangsa, kita hidup dalam ancaman, bukan cuma tidak bisa makan, malah nyawa kita jadi taruhan. Jadi damai itu bukan berarti bebas masalah.

Sayangnya damai itu indah kini sudah tak karuan bentuknya. Semua orang mendambakan perdamaian, bahkan makhluk sejagat, baik itu coro atau semut pun mendambakan perdamaian. Mereka tidak ingin sarangnya diusik. Damai itu indah sekarang sudah tidak indah lagi, malah diplesetkan damai itu Rp 20.000 atau damai itu Rp 50.000. Kebanyakan masalah masalah lalu lintas, seperti tidak memakai helm, melanggar rambu rambu, tidak menghidupkan lampu utama di siang hari dan jenis pelanggaran kecil lain di jalanan pasti akan diselesaikan dengan cara “damai itu indah”.

Ya memang “damai itu indah” model di jalanan merupakan jalan terbaik bagi kedua belah pihak, baik pelanggar maupun Pak Polisi nakal itu sendiri. Di satu pihak pelanggar tidak mau berurusan dengan hukum dan sidang pengadilan, asumsinya sih sepele, cuma pelanggaran ringan saja masak kudu ke pengadilan. Sebenarnya anggapan pelanggar semacam ini tidak bijak, masalah sepele seperti melanggar lampu merah bisa berakibat fatal, nyawa taruhan anda, jadi pantas saja tindakan itu merupakan bagian dari pembunuhan berencana yang diancam dengan hukuman gantung, eh maaf hukuman mati.

Adalah keliru hanya melanggar rambu rambu terus dianggap hal yang sepele, akibatnya mencari model penyelesaian lapangan yang mudah saja, bayar di tempat, kalau ini sih sebenarnya tidak masalah, asal jangan mengulangi pada kasus yang sama, melanggar lampu merah tiga kali kena tilang itu sudah tindakan bodoh. Secara bodoh, anggap saja hari ini melanggar lampu merah, kapan kapan tidak menyalakan lampu, ketika naik motor di pagi hari kena semprit Pak Polisi nakal itu.

“Selamat Pagi Pak “ sapa Pak Polisi atau Bu Polwan sambil menghormat ala tentara/tentiri.

“Selamat pagi juga Pak Polisi yang ganteng ( Bu Polwan yang cantik )” balas pelanggar dengan malu malu sambil garuk garuk kepala padahal tidak gatal, keringat dingin pun mulai menetes, bayangan pengadilan sudah tergambar dengan jelas.

“Tolong keluarkan SIM dan STNK ya .. “ perintah Pak Polisi dengan basa basi, mesti nanya dua surat sakti itu, sebenarnya itu cuma alasan saja kok, siapa tahu surat surat kendaraan itu sudah expired sehingga bisa semakin memeras anda.

“Ini Pak .. “ jawab pelanggar, pelanggar jenis ini sudah pintar karena nggak naruh uang di dompet, kalau dompet kita tebal, kita malah semakin kena garuk.

“Tahu pelanggaran Bapak ? menurut undang undang kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama pada siang hari “ ucap Pak Polisi dengan tampang menyudutkan.

“Polisi bego apa ini ? udah ngucapin selamat pagi, belum ada 2 menit mencari kesalahan pada menyalakan lampu utama pada siang hari, dasar polisi nggak tahu lapangan, kayak polisi belum cuci muka tuh, kalah sama si Pleki guwe, si Pleki tahu kapan bangun pagi, kapan bangun siang “ maki pelanggar dalam hati.

“Lho Pak ini khan masih pagi belum siang “ ucap pelanggar membela diri, sebisa bisanya lepas dari jebakan batman Pak Polisi, kalau Bu Polwan mah biasanya bisa ditawar, diajak makan makan mungkin bisa, atau nanya nomer hape Bu Polwan berapa, nggak usah kenalan sama Bu Polwan, akan kenal dengan sendirinya, anda sodor SIM, Bu Polwan pasti sudah tahu nama anda, sedang anda cukup lihat di dadanya… ya ampuuun .. saru ah .. lho .. lho .. di dada Bu Polwan khan sebelah kanan tertera namanya.

Biasanya sih kalau sama Bu Polwan apalagi kalau polwan masih cantik dan cakep, saya suka make banyak alasan, tidak bawa uang.

“Gimana kalau uangnya saya antar ke rumah Bu Polwan saja, tapi saya nggak mau ditilang .. masak seganteng begini kena tilang, memalukan khan Bu Polwan ?”

Back to topic ! Pak Polisi langsung sigap.

“Tidak bisa Pak, istilah siang hari itu kalau matahari sudah terbit “ rupanya Pak Polisi memang tidak tahu istilah pagi, siang, sore atau malam. Terus apel pagi setiap hari untuk apa coba ?

“Menurut undang undang bapak melakukan pelanggaran rambu rambu … “ ucap Pak Polisi, sayangnya sang pelanggar tak kalah gobliknya. Kita sendiri sudah memulai suatu hal yang paling bodoh, Pak Polisi belum selesai baca kesalahan menurut undang undang kita sudah langsung main potong, biarkan Pak Polisi atau Bu Polwan menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu di mana letak kesalahan kita. Tidak semua polisi berkelakuan sama

“Damai saja Pak .. “  kita main potong sembarangan, kita memancing ikan di air keruh.

Tidak semua polisi berkelakuan sama, ada juga polisi yang baik hati, pernah suatu hari saya kena tilang, tidak bawa duit, kebetulan Bu Polwan yang sabar.

“Maaf seribu maaf ya Bu Polwan, saya buru buru karena ibu saya di rumah sakit, benar nih Bu … seribu maaf saya nggak sengaja … “ ucap saya dengan merasa tidak bersalah melanggar rambu rambu, lha wong areanya berkelok kelok, itupun juga make jalur kiri. Gaya memelas dan akal bulus saya pun berhasil, padahal ibu saya berada di rumah sakit tidak sakit tapi tengok orang sakit. Sungguh terlalu ! Membohongi Bu Polwan yang cantik.

“Baik, silakan jalan hati hati di jalan, semoga ibu anda cepat sehat “ ucap Bu Polwan dengan senyumnya yang manis.

Saya terbiasa akan menghindari “damai itu indah” dengan tidak mengajak “damai model uang dulu”. Belum tentu semua polisi minta uang. Biarlah polisi yang “minta uang” atau “minta damai”. Tujuannya agar kita punya daya tawar, beda jika kita yang mengajak deal.

Dari pihak Polisi sendiri alasan melakukan “damai itu indah” dikarenakan biasanya masalah ekonomi, gaji polisi tidak seberapa, mereka pengin balikin modal masuk Akademi Kepolisian, alasan kedua karena diberi umpan sama pelanggar “Damai saja Pak !”. Tidak semua polisi menyukai model tilang, Pak Polisi juga tahu, yang melanggar peraturan setiap hari juga kerja, terkadang ada polisi yang baik hati mau melepaskan kita demi alasan pembelajaran.

“Damai mulu juga bosen Pak, saya jadi polisi selalu kena potong pelanggar, saya ndak ada niat minta duit, tapi si pelanggar yang memulai, apalagi pakai tampang memelas, kasihan khan tapi saya juga tidak pukul rata, kalau tingkat kesalahannya memang membahayakan ya langsung membuat surat tilang, kebiasan kebiasaan semacam itu susah juga diatasi “ seorang polisi yang curhat dengan saya di sebuah kedai kopi pinggir jalan.

Memang ada juga polisi nakal, masalah kenakalan polisi ini katanya kian merajalela, kita ikut andil menyuburkan praktik kenakalan polisi ini, dikit dikit damai, dikit dikit damai .. tidak semua polisi asal keluarkan surat tilang dan minta uang, jadi so kita sendirilah yang membiarkan Pak Polisi atau Bu Polwan menyadarkan kita, siapa tahu kita hanya diberi edukasi bahkan tanpa diminta keluarkan dompet sama sekali, tapi kalau polisi belum apa apa, kita sudah nyahoo “Damai saja Pak .. buru buru nih .. “ . Ini bukan sikap yang bijak, malah menyuburkan praktik kepol alias kenakalan polisi. Semoga !

   

Akal Bulus Pencitraan Masa Kini

14Nov2015

imaging

Pejabat publik selalu melakukan pencitraan akan segala tindakannya baik secara disengaja maupun tidak sengaja, baik itu dilakukan dengan cara terselubung atau tidak terselubung, bahkan terang terangan sehingga menjadi tampak bodoh. Kebanyakan pencitraan dianggap sebagai cap, stigma, anggapan dan dilakukan oleh lawan politiknya, seperti halnya Pak SBY merupakan salah satu target penyerangan pihak lain dengan pencitraan ini, Pak SBY dicitrakan sudah banyak melakukan kegagalan, seperti partai binaanya yang isinya para koruptor.

Saking jengkelnya seseorang yang kesal sama Pak SBY plat nomor mobil pun dibuat sedemikian rupa agar Pak SBY menjadi blo’on, tak lain adalah plat mobil nomor B 360 SBY ( dibaca : Bego SBY ). Entah siapa yang begitu norak beraninya menghina seorang pengganti presiden Indonesia itu ( Maaf ! bagi guwe presiden Indonesia cuma satu Ir. Soekarno, yang lain itu cuma penggantinya saja ). Konon itu dilakukan oleh salah satu oknum paratidaknormal kondang di Indonesia.

Pencitraan demi pencitraan sebenarnya terkesan baik dan bagus, seorang presiden harus mencitrakan dirinya sebagai seorang pemimpin, itu kalau dinilai secara obyektif, sayangnya penilaian pencitraan dilakukan oleh lawan politik sehingga menjadi negatif, entahlah kenapa di Indonesia istilah istilah yang baik sekarang banyak dieksploitasi demi kejelekan semata, apakah memang orang Indonesia itu kalau menghadapi lawan tidak bisa jujur kacang ijo ? Mana mau orang Indonesia ngalah, lha wong sama Belanda atau Jepang saja dilawan dengan bambu runcing.

Jika ditelusuri pencitraan merupakan asal kata citra yang berarti diwujudkan, digambarkan, atau dalam bahasa linggis : image. Semua itu bernuansa netral, tidak berpihak kanan kiri, atas bawah. Orang gagah dicitrakan sebagai orang yang berbadan atletis, bahkan mungkin ganteng nan tampan bak pangeran kemaren sore. Citra merupakan kata netral, milik semua golongan dan non golongan, orang kere paling miskin dicitrakan sebagai orang yang berbaju compang camping, konglomerat paling kaya dicitrakan dengan memiliki puluhan bahkan ratusan perusahaan, mobil sepuluh, rumah dua belas, semua tipe sepanyol, tidak ada gubug. Namun begitu bertemu dengan orang yang dihormati akan merendah : silakan mampir ke gubug saya. Gubug kok kayak istana.

Orang kaya yang baik akan mencitrakan bahwa dirinya sebagai orang miskin, merasa semua itu bukan miliknya, juga bukan milik anda, tetapi titipan Tuhan yang harus dijaga dan dikembangkan semakin kaya, orang sombong akan mencitrakan bahwa dirinya merasa bisa apa saja, padahal cuma omdo dowang. Orang serakah akan mencitrakan bahwa dirinya semua yang ada itu milik haknya. Orang rakus akan mencitrakan bahwa dirinya apa saja dimakan atau diuntal.

Ketika kata pencitraan diwujudkan dalam ranah politik, artinya menjadi kacau, menjadi tak terkendali. “Halah itu cuma pencitraan, melakukan safari ke rakyat kecil tanpa melakukan tindakan apa apa, cuma janji janji dowang, bikin orang sebel, dasar pejabat geblek”. Jadi dalam ranah politik, pencitraan merupakan “shut down” bagi lawan politik.

Pencitraan dalam ranah politik seperti identik dengan hiperbola, melebih lebihkan diri, padahal cuma apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih, semakin banyak pencitraan dianggap sebagai sarana mencari simpati, mencari dukungan belaka. Model model pencitraan seperti itu akan membuat orang partai menjadi jengah “Itu pimpinan kami bukan pencitraan, tapi tindakan nyata, tidak mungkin partai kami yang merakyat melakukan pencitraan”. Namanya politik apapun dilakukan untuk memperbaiki citra partainya sendiri, pencitraan yang datang dari dalam, tapi jika pencitraan dari luar dianggap sebagai hal yang sesat.

Yang paling aneh adalah pencitraan sebagai terdakwa, begitu bengisnya seorang pembunuh, ketika disidang sudah berubah bak orang yang sok suci, menangis memohon belas kasihan, yang kena kasus tabrakan ketika menyopir dengan mabuk, tiba tiba berubah drastis bak orang alim nan religius, padahal seminggu yang lalu nenggak ekstasi atau minuman keras. Pencitraan yang dalam waktu singkat, pertanyaannya apakah pencitraan semacam itu cuma sementara demi keringanan hukuman ? mengapa keringanan hukuman dilakukan dengan pencitraan ? Kita tidak tahu dan tidak perlu menghakimi orang yang doyan seks bebas dan kena sidang tiba tiba memakai simbol agama, anggap saja itu sebagai pintu pertobatan, semoga dia benar benar mencitrakan dirinya jika sudah dipenjara, tapi kalau dihukum mati ya maaf, pencitraan akan berhenti diujung timah panas alias siap siap masuk kuburan dengan cara “dibunuh” algojo regu tembak.

Akhirul kata menutup tulisan ini, pencitran demi pencitraan biasanya karena ada tujuan melakukan sesuatu, entah baik atau buruk bahkan mungkin keduanya, kita ambil sisi positifnya saja, lha wong kita sendiri sering mencitrakan diri kita sebagai orang baik, tapi masih suka bohong dan pelit luar binasa, orang baik kok bohong dan pelit, itu bukan citra orang baik. Marilah kita citrakan diri kita sebaik baiknya, jika kita punya citra, lakukan tindakan nyata. Siapa tahu anda akan mendapatkan giliran jatah Piala Citra Beneran. Semoga

 

Mengorek Orek Tentang Tukang Cari Muka

14Nov2015

ppp

Dalam sehari hari kita mengenal berbagai macam tukang, istilah tukang sendiri dalam khasanah bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang mengetahui seluk beluk pekerjaannya atau mungkin orang yang ahli dalam pekerjaanya. Ada banyak di dunia ini soal profesi yang namanya tukang, ada tukang bakso yang kerjanya menjual bakso, ada tukang batu yang pekerjaannya membuat bangunan dengan mencampur semen, pasir, batu, batu bata tanpa melakukan perbuatan “lempar batu sembunyi tangan”. Tukang kayu, yang kerjanya membuat perabotan dari kayu seperti meja, kursi, atau lemari tanpa melakukan “main kayu” pada pelanggannya. Dari sekian tukang tukang tersebut yang paling asyik diulas adalah tukang cari muka.

Dalam dunia pekerjaan banyak beragam jenis manusia, ada yang berasal dari manusia yang memang sudah sononya jujur adil dan makmur, apa adanya, mau naik pangkat apa tidak, bukan urusannya karena dia merasa tempat kerja bukan kepunyaan bapaknya, tapi anehnya tetap tidak tenang jika gajinya tidak naik naik. Mungkin seiring beban ekonomi yang meningkat, takut kena sindrom “gegedhen empyak kurang cagak”. Ada juga yang bekerja apa adanya, namun banyak tuntutan alias tukang ngeles, dan yang lebih parah adalah tukang cari muka, tidak pernah bekerja tapi terlalu banyak mencari perhatian demi popularitas dirinya yang hipokrit itu. Tukang cari muka ternyata juga merangkap jabatan tukang tukang lain yang dikonotasikan secara negatif, yang diperlakukan dengan tidak hormat pada profesi yang sama sama menganut dunia pertukangan itu.

Diantara sekian tubuh manusia, yang paling mahal adalah muka, bukan masalah ganteng atau cantiknya entah hasil polesan bedak atau hasil operasi bedah plastik tas kresek, muka merupakan cerminan dalam diri manusia yang bisa tampak dari luar. Orang berwajah cemberut, hatinya sedang cemberut, gondok, kesal, marah, atau sedih. Orang yang menang lotre atau togel akan berseri seri wajahnya. Namun ada pula orang yang wajah dan mukanya cerah namun hatinya sedang berduka, ini contoh orang yang tegar seperti pagar yang kuat diterjang puting beliung. Makanya wajah atau muka merupakan cerminan dari isi hati manusia yang susah untuk ditipu, jika tidak percaya silakan tanyakan simbah anda. Sayangnya dalam dunia “per-muka-an”, sering disalahgunakan oleh tukang cari muka. Dia bersikap bak orang keraton, tapi hatinya luar biasa tega untuk mengorbankan orang lain sebagai tumbal atau wadal. Orang seperti ini luar biasa berbahaya dibanding tukang korupsi.

Tukang cari muka dalam melakukan aksinya akan selalu melancarkan tipu muslihat, akal bulus, cipoa dan sebangsanya, dia juga menghalalkan segala macam cara, apapun dia lakukan sampai menjilat pantat atasannya tak akan pernah malu melakukan. Setiap pekerjaan yang dilaporkan akan dipoles sana sini, digincu ini itunya padahal isinya terkesan badutan. Tukang cari muka merupakan golongan manusia hipokrit, pahlawan kesiangan. Tukang cari muka adalah orang yang takut gagal, padahal dia menipu diri sendiri sudah gagal sebelum mendapatkan muka. Dia melakukan “pelacuran” dirinya sendiri kepada pelaku sistem yang lebih atas demi menyelematkan kariernya yang sudah mentok atau rusak.

Tukang cari muka selalu menganggap dirinya bak konglomerat paling kaya, tidak mau mengakui dirinya kere paling miskin, dia akan selalu menutupi kekurangan, sialnya untuk menutupi kekurangan itu dia menutupi dengan kekurangan juga. Akibatnya bisa ditebak jenis manusia semacam ini. Banyak alasan yang dikemukakan jika mendapatkan tugas dan perintah. Dia jenis manusia suka melemparkan tanggung jawab dan tak segan merangkap jabatan tukang batu yang melakukan “lempar batu sembunyi tangan” dan juga sebagai tukang kayu yang suka “main kayu” pada rekan kerjanya, bawahannya, dia hanya hormat pada yang lebih tinggi karena takut dinilai jelek. Bersikap manis dan pura pura hormat padahal mengincar jabatan yang lebih atas, jika perlu dengan cara dijegal.  Dia suka menganggap pekerjaan orang lain diaku aku sebagai pekerjaanya sendiri, dia sendiri yang merasa paling berjasa dalam pekerjaanya padahal dia banyak bicara tidak mau bekerja, dia lebih parah dibanding orang NATO ( No Action Talk Only ).

Jenis manusia ini tidak pernah mengenal kata “dosa”. Yang dianggap orang jujur sebagai “dosa” bagi dia sudah bukan “dosa” lagi tapi sebagai hobi karena hatinya berjiwa maling, culas, pendengki, iri hati. Repotnya dia pintar memasang muka jenis apa saja sampai yang “nyebahi” tur “njelehi” sekalipun, sehingga orang yang dikerjai tidak pernah merasa dikadali, dari tukang badut dia mampu berperan, bahkan muka badak pun sanggup dia perankan. Pujangga terkenal Ronggowarsito pernah berpesan : jaman edan, sopo sing ora ngedan ora bakal keduman, namun betapapun nikmatnya orang yang ikut ikutan edan, lebih nikmat orang yang tidak ikut ikutan edan. Inilah yang mendasari banyak orang menjadi tukang cari muka.

Orang yang bersikap manis dan kepura puraan belum tentu dikategorikan sebagai tukang cari muka, ada kalanya kita memakai muka yang lain, namun dalam kasus ini bersikap personal tanpa bermaksud “ada udang dibalik bakwan”. Sebagai contoh kita sedang tidak suka menerima tamu, namun sang tamu datang menganggu, saat itulah kita akan berusaha menyembunyikan muka asli kita tanpa bersikap hipokrit berlebihan, karena ini lebih kepada dunia kesopansantunan atau tata tertib internasional yang berlaku secara global dalam hal menerima tamu. Dua duanya sama sama hipokrit, sang tamu minta maaf karena sudah mengganggu “maaf menganggu”, kalau ngomongnya sama preman terminal sudah digasak. Sedangkan tuan rumah menjawab “nggak apa apa, saya tidak merasa terganggu”, padahal dia benar benar terganggu.

Jadi so, kadang kita memerlukan muka lain untuk suatu kepentingan, namun tidak didasari “ada udang dibalik rempeyek”. Tidak ada agenda tersembunyi seperti halnya anggota DPR. Kita melakukan peran itu karena keterpaksaan yang direlakan dengan lapang dada dan kita mengakui bahwa itu demi kebaikan bersama.

 

   

Page 1 of 2