Humoriana

Goblokisasi Dalam Kehidupan Sehari Hari

14Nov2015

party

Sepintas pertanyaan yang nyleneh : apakah anda pernah digoblok goblokan orang lain ? jika anda mengaku tidak pernah digoblokan orang lain berarti anda bohong, biasanya seorang pembohong lama lama akan ketahuan, setelah ketahuan akan dianggap sebagai orang goblok, jika anda memang mengaku pernah digoblok-goblokan orang lain, sebenarnya anda memang benar benar goblok. Namun anda tidak perlu risau, banyak orang orang lain senasib dengan kita, kalau nggak goblok ya digoblok gobloki orang lain.

Ternyata dalam kehidupan sehari hari, kita secara tidak sadar digoblokkan oleh oknum tertentu, sebagai contohnya main sulapan, kita ditipu dengan akal bulusnya, padahal kita hanya dipermainkan oleh penglihatan. Penjual obat dengan berteriak bahwa obatnya nomer satu termasuk merupakan tindakan menggoblok goblokan orang lain. Iklan iklan di televisi pun semakin membuat kita tampak bodoh dan goblok. Walaupun kita menonton gratis tetap saja dibodohin dengan acara televisi tidak bermutu, kesannya dalam bahasa jawa : nyebahi tur jelehi. Menonton film bagus pun ditengah seru serunya dipotong iklan : “huuuuuuuuuuuuuu ! dasar teve goblok nggak tahu cara motong film”. Sudah nonton gratis masih goblokin stasiun televisi. Penonton goblok, yang nyiarin juga sama sama goblok, klop : goblok teriak goblok !

Kelihatan paling goblok adalah saat kita menyambut pemilu atau pilkada, berbagai cara dilakukan oleh konstestan pemilu atau tim sukses, mereka melakukan proses goblokisasi, menjual janji janji kampanye dan kita terpukau untuk mencoblosnya, seribu satu juta janji, “Jika kami tak berhasil kami siap diturunkan“, turun pamor iya, kalau turun jabatan nanti dulu ! meletakkan jabatan seolah tabu bagi yang dianggap „pemimpin”, model pejabat kayak ini memang banyak alasan untuk menutupi kegagalannya, menutupi kegoblokannya.

Pemilu merupakan salah satu proses penggoblokan partai lain, partai yang goblok tidak bakalan menang, bahkan ada dengan cara melakukan tindakan membodohi dan menggobloki rakyat dengan money politik, serangan fajar, intimidasi, bagi sembako, makan makan, bagi kaos, bagi sarung, bagi kondom dan lain lain yang intinya membuat pemilih menjadi “goblok” sehingga asal manut : silakan coblos calon kami, pas matanya dicolok sekalian ! kampanye model setan seperti itu benar benar tidak mendidik, kampanye yang membuat masyarakat semakin tambah bodoh dan goblok.

Toh alasan demi alasan goblok pun dikeluarkan dengan membela diri agar terbebas dari kritikan, sebagai contohnya adalah kampanye dialogis, apalagi ini kampanye ? kampanye dialogis adalah kampanye tanya jawab antar kontestan dengan massa, yang bertanya satu dua, yang banyak bicara justru malah pihak partai, seakan akan dikuasai, dipengaruhi, dibodohin dan juga digoblokin. Padahal rakyat cuma butuh : terserah siapa yang menang, yang penting barang barang murah, cari kerjaan dan duit halal gampang, sekolah murah, kalau bisa gratis atau sekolah dibayar bukan bayar. Keinginan rakyat yang sangat sulit diakomodasi oleh partai, partai menjadi pusing dan tak sadar sudah digoblokin rakyat, Rasain lo !

Pemilu tanpa kampanye jelas tidak mungkin, kampanye merupakan sarana menyampaikan program program kerjanya yang dianggap terlalu muluk atau terlalu goblok di mata orang kritis. Golkar mengaku suara rakyat, PDIP mengaku partai wong cilik, tapi kenyataannya ketika mereka memimpin negeri ini, kita tetap saja bodoh dan goblok. Mereka berkoalisi dengan partai yang tidak disukai rakyat demi mengamankan kebijakan, seolah olah partai pemenang pemilu tidak yakin mengelola negara ini tanpa mendapat dukungan partai lain, padahal partai lain dalam kampanye sudah digoblok goblokin, sudah digoblokin masih diajak gabung, gimana partai pemenang pemilu bisa kerja sama dengan partai goblok ? Aneh bin goblok !

Semua orang sudah punya pikiran, “Jangan bekerja sama dengan orang goblok”, di sini partai yang diajak bergabung pun menawar, bahkan kesan menawarpun dengan menggoblok goblokan secara terselubung. “Kalau nggak dikasih jatah 4 menteri kami nggak mau, kami malah dianggap goblok kalau cuma dijatah 2 menteri”. Ternyata pemenang pemilu pun bisa digoblokin oleh partai yang kalah, partai yang dianggap goblok, mereka berkoalisi, berkongkanglingkong ! Katanya tidak ada kawan, yang ada cuma kepentingan belaka. Kalau sudah putus koalisasi dan bertarung lagi dalam pemilu yang akan datang, saling menggoblok goblokan lagi, akur lagi … putus lagi, goblokin lagi … mereka tidak pernah bosan dengan goblokisasi, kekonyolan dan kegoblokan sudah merupakan bagian dari sistem kepartaian.

Iklan rokok merupakan salah satu paling goblok di dunia olah raga, katanya rokok mengganggu kesehatan, tapi getol mendukung olah raga. Kelihatan lucu kalau tidak mau disebut goblok. Di luar negeri, kegiatan olah raga tidak mau digoblokin pabrik rokok, mereka lebih sadar bahwa rokok itu merusak kesehatan dan tidak baik, namun di Indonesia, kegiatan olah raga tanpa iklan rokok adalah goblok, karena kebanyakan hanya mau uangnya, peduli amat sama rokoknya. Yang penting kegiatan jalan, terserah pabrik rokok mau jualan, simbiosis mutualisme, saling menguntungkan sekaligus saling menggoblokan.

Lalu bagaimana dengan kita yang goblok ? terserah bagi kita sendiri, yang penting seminimal mungkin digoblokin orang lain, dan juga seminimal mungkin kita menggoblokan orang lain, kalau kita digoblokin orang lain, cuekin saja .. karena dia sendiri tak sadar bahwa dirinya sudah goblok duluan. Kalau kita ikut ikutan terpancing, kita tak beda dengan mereka, sama sama goblog. Semoga tulisan ini tidak membuat anda goblok, bahwa anda sudah saya goblok goblokin. Namun jadi orang yang penting jangan takut goblok, karena goblok hanyalah pilihan hidup.

 

Guru Kencing Berdiri Murid Kecipratan

14Nov2015

nana

Menjadi guru itu tidak mudah, lebih mudah menjadi sopir angkot. Menjadi sopir angkot orientasinya jangan sampai nombok setoran ke juragan. Menjadi sopir angkot sering berjibaku dengan kemacetan, panas terik, banjir, sopir angkot sering tak perduli pada pengguna jalan lain, tidak perduli angkotnya membuat kacau lalu lintas. Berbeda menjadi guru, menjadi guru itu tidak mudah karena tidak sembarang orang mampu, tidak sembarang orang terpanggil menjadi guru. Menjadi guru berkaitan dengan filosofi hidup, salah sedikit membuat sisi personalnya menjadi cacat. Apalagi profesi guru memang tiada duanya di dunia ini, karena di dunia ini hanya ada dua profesi pekerjaan, yang pertama adalah guru dan yang kedua adalah “dan lain lain”. Berbeda menjadi sopir angkot yang masuk kategori profesi "dan lain lain" itu, salah sedikit paling banter kena tilang pak polisi. Setelah itu ujung ujungnya damai itu indah.

Lalu apa hubungannya judul di atas ? apalagi judul di atas sudah keluar dari pakem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari, namun peribahasa tersebut saya plesetkan menjadi “guru kencing berdiri, murid kecipratan”. Peribahasa yang umum tersebut dari "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" diartikan “menjadi tokoh panutan di masyarakat/pejabat hendaknya jangan sampai memberi contoh yang buruk”. Tidak sebatas hanya untuk guru, karena profesi guru itu berkaitan dengan “panutan” “teladan”. Jadi so, baik pemimpin, ketua, sesepuh atau panglima hendaklah kalau kencing eeh, maaf harus bisa memberikan teladan yang baik.

Mari kita runut secara harfiah namanya buang air kecil yang bahasa premannya kencing. Dalam budaya jawa dan sopan santun, baik lelaki maupun perempuan tidak pantas dan “ora ilok” membuang air kecil dengan cara berdiri. Hajatan kecil tersebut tetap dibutuhkan semacam “upacara” agar proses penembakan air seni menjadi lancar. Namun sayangnya sudah menjadi hal jamak kalau namanya lelaki, membuang air kecil dengan cara berdiri mengangkang tanpa sopan santun, bahkan berani di pinggir jalan tanpa permisi. Tidak perduli kalau suatu tempat pasti ada “penunggunya”. Padahal secara etika, membuang air seni dengan cara berdiri adalah tidak sopan, saru !. Apalagi semua toilet laki laki menyediakan tempat narsis semacam itu, jangan salahkan kami yang kencing, salahkan yang punya toilet kenapa dibuat seperti itu. Tapi bagi mereka rasanya bangga dan lega bisa membuang hajatan rutin apalagi kalau sudah kebelet.

Kencing dengan cara berdiri memang tidak pantas dan tidak sopan, lalu dikaitkan dengan profesi guru, kenapa ya tidak profesi lain, misal sopir angkot, atau tukang ojek sehingga menjadi begini “Sopir angkot kencing berdiri, penumpang kencing berlari”. Masalahnya sopir angkot tidak bisa menjadi contoh, sopir angkot itu tidak pernah peduli rambu rambu lalu lintas, berhenti di tengah jalan dan mengira bahwa jalan itu punya neneknya. Bagi sopir angkot berhenti mendadak sebagai hak dan kemerdekaan, anak istri butuh makan, cuk ! peduli amat. Makanya profesi sopir angkot tidak pantas mewakili dunia percontohan dan keteladanan.

Inilah istimewanya guru, menjadi public figure, menjadi contoh, guru jarang sekali protes, jarang demo, memang ada juga, namun jumlahnya tidak banyak dibanding demo buruh atau pilkada. Pembuat peribahasa itu seharusnya perlu dituntut pertanggungjawaban, mengapa profesi guru sampai sesadis sadisnya dikaitkan dengan urusan “upacara” tidak senonoh itu. Mungkin juga karena profesi guru yang membutuhkan kesabaran ekstra itu, sehingga ada orang sampai sangat luar biasa tega membuat peribahasa aneh aneh dengan anggapan para guru tidak tersinggung, padahal itu keliru, guru juga manusia, guru juga punya hak marah dan tersinggung namun ada batas batas yang tidak akan dilangkahi oleh seorang guru. Guru tidak pernah menyandang predikat maha sabar, karena di dunia ini hanya dua orang yang berhak menyandang gelar “maha”, yaitu mahasiswa/i dan maha patih Gajah Mada. Jadi jangan menganggap bahwa guru itu semacam dewa, atau manusia tiada duanya, sehingga bisa sabar seperti malaikat.

Karena sudah terlanjur peribahasa tersebut, maka murid menjadi kecipratan akan “upacara” tersebut. Di mana ada guru, pasti ada murid. Mengaku menjadi guru tanpa murid namanya tong kosong berbunyi glondhang glondhang. Di mana murid berulah, gurunya yang disalahkan. Sungguh repot nian jadi guru, nggak mudah, nggak gampang, lebih gampang jadi tukang copet.

Agar murid kencingnya tidak berlari ada baiknya peribahasa tersebut kita belokan, guru kencing berdiri murid kecipratan, artinya kurang lebih “menjadi tokoh panutan di masyarakat/pejabat jika berbuat buruk cukup hanya lingkup tertentu, jangan meluber kemana mana”. Namanya manusia, sekalipun jadi teladan tetap saja ada salahnya, hanya tingkat kesalahannya jangan diumbar umbar seperti murid kencing berlari, tidak patut, cukup kecipratan di tempat saja. Mungkin tidak pas, namun setidaknya bisa melokalisir sebuah keburukan. Entah kalau anda punya pikiran lain, silakan saja, namun bagi saya pribadi, peribahasa yang enak di dengar memang “guru kencing berdiri, murid kecipratan” dibanding “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika hal yang buruk yang dilakukan seorang guru jangan dicontoh dan jangan di bawa ke mana mana apalagi sambil kencing dan berlari, jadikan hal tersebut semacam “koreksi” menciprati muka kita, karena guru juga manusia, tidak sempurna.

 

Peribahasa Ada Udang Di Balik Bakwan

14Nov2015

Bakwan-Udang-Sayuran

Peribahasa lama yang kita kenal adalah ada udang dibalik batu. Namun seiring para pemancing jaman sekarang suka memburu udang dibalik batu, terutama sungai, lama lama populasi udang semakin langka. Udang sekarang lebih banyak di ternak di empang empang. Jadi kita akan semakn sulit menemukan udang di balik batu, sehingga peribahasa tersebut seharusnya diperbaiki menjadi “ada udang dibalik bakwan”. Kebanyakan bakwan sekarang sudah ada udangnya. Namun tulisan ini tidak membahas tentang makanan rakyat bernama bakwan.

Setiap orang punya “tujuan”. Sengaja pada kata “tujuan” saya memberikan tanda kutip, tujuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai terminal, sebagai tempat berhentinya sebuah tujuan, karena manusia adalah inkonsistensi. Manusia tidak pernah konsisten, karena konsistensi adalah titik pemberhentian alias terminal, padahal manusia berjalan terus, bisa berupa reinkarnasi, berubah wujud, atau mungkin menyaru jadi yang lain. Tujuan tujuan itu akan membawa ke tujuan tujuan selanjutnya yang tanpa henti sehingga orang benar benar memanusiakan manusia, tidak sekedar menjadi manusia. Pendek kata manusia dalam bahasa saya adalah there is no finish line. Tidak ada batas akhir.

Tujuan tujuan itulah yang membuat orang akan berusaha mencarinya sampai ketemu, manusia yang haus pemenuhan merupakan manusia yang sebenarnya, ada yang dengan cara polos, ada yang dengan cara yang yah katakanlah, menggunakan cara tidak sopan, berlaku curang sampai menyembunyikan kartu permainannya. Jika kita sadar akan kejatidirian kita, walaupun haus pemenuhan namun tetap menisbikan kerakusan, karena manusia dibedakan akan dua hal, kebutuhan dan keinginan. Haus karena “butuh” demi pemenuhan sifat manusia, dan haus karena “ingin” demi sebuah kekuasaan. Yang terakhir itu akan berhenti pada kesimpulan menjadi rakus dan tamak, seperti halnya yang sedang terjadi di Republik Tempe Indonesia ini.

Ada udang dibalik bakwan kurang lebih diartikan bahwa melakukan suatu hal ada agenda tersembunyi. Tujuan tujuan itu disembunyikan karena ada maksud tertentu, namun hal ini lebih ke arah yang negatif. Biasanya dalam sebuah persaingan, entah dunia usaha, dunia kerja, agenda tersembunyi itu begitu sangat rapi disimpan dalam dalam. Bersifat hipokrit luar biasa sopan, namun sangat tamak ingin menguasai atau mendapatkannya sehingga bisa diibaratkan sebagai maling siluman. Orang yang tidak jujur akan selalu melancarkan ada udang dibalik bakwan. Mungkin baginya “jujur kacang ijo” memang susah diterapkan untuk mencapai suatu tujuan.

Partai partai yang ada di Indonesia luar biasa munafiknya, tidak sekedar menipu rakyat. Mereka adalah maling, selalu ada kepentingan dibalik jargon kampanye, sekalipun mereka menggunakan model kampanye dialogis yang mengaku win win solution, namun menurut saya itu merupakan akronim dari “dia saja yang logis”. Tetap ada agenda "ada udang dibalik bakwan".

Partai Kolor Ijo melakukan kampanye dengan menyerang Partai Buto Ijo, bahwa program Partai Buto Ijo itu tidak bagus untuk kepentingan rakyat. Partai Kolor Ijo secara implisit pastilah mengatakan bahwa program partai lain adalah racun, dan program sendiri bak obat. Ketika pemilu usai dan Partai Kolor Ijo kalah, sedang Partai Buto Ijo menang. Di sini ada udang dibalik bakwan kembali dilakukan. Partai Kolor Ijo mau diajak koalisi, demi mencapai tujuan partainya. Padahal sejak awal kampanye Partai Kolor Ijo menganggap bahwa program partai Buto Ijo adalah racun dan kini Partai Kolor Ijo mau menelan racun itu dengan cara mau diajak koalisi. Luar biasa munafiknya partai partai di Indonesia, dan hal ini jarang ditemui di negara negara yang sudah menganut paham demokrasi yang benar benar dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Jangan salah di Amerika tidak hanya ada dua partai, ada partai lain namun yang dominan adalah hanya dua partai. Dan sampai kapanpun mereka tidak akan melakukan koalisi demi tujuan “ada udang dibalik bakwan”.  Mereka sangat jujur menerapkan “udang dibalik bakwan” itu dengan caranya sendiri. Dunia politik merupakan lahan yang sangat subur untuk menerapkan “ada udang dibalik bakwan”. Karena politik tidak akan pernah fair, di dunia politik tidak ada kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi, hari ini teman, besok musuh demikian pula sebaliknya. Kepentingan kepentingan itu akan dilakukan dengan agenda tersembunyi, sekalipun harus mengkhianati rakyat. Mereka mengaku wakil rakyat namun ada agenda tersembunyi tak lain adalah melakukan korupsi, merasa dirinya istimewa padahal cuma wakil belaka.

Presiden jelas lebih tinggi dari wakil presiden, di Indonesia ini pengganti presiden Ir Sukarno adalah SBY, sedang wakilnya Budioraono, maaf saya hanya mengakui Ir Soekarno satu satunya presiden di republik ini, yang lain cuma penggantinya. Karena wapres kita ini sering tidak terlibat acara kepresidenan, sehingga sah sah saja saya menyebutnya Bapak Budioraono. Kalau namanya Budiono seharusnya sering tampil alias “ono” atau ada. Saya yakin Pak Budioraono melakukan agenda tersembunyi melakukan ada udang dibalik bakwan dengan caranya sendiri. Demikian pula dengan gubernur dan wakil gubernur, lebih tinggi gubernurnya, walikota dengan wakil walikota, namun rakyat dengan wakil rakyat yang lebih kuasa malah wakilnya. Aneh ! mereka dengan sejuta janji manis yang akhirnya cuma menikmati ada udang dibalik bakwan itu. Kalau tidak aneh itu bukan Indonesia.

Kita tidak perlu ikutan ikutan melakukan ada udang dibalik bakwan, karena kita rakyat, kita hanya bisa berharap dan juga menyumpahi mereka. Sepandai pandainya orang menyimpan busuk toh suatu saat akan ketahuan baunya juga. Jujur memang menyakitkan, namun rasa sakit itu akan menjadikan kita dewasa. Urip nang donya mung mampir ngombe, kita nikmati minuman itu, biarlah ketika urip mung mampir ngombe itu, anggota DPR sempat sempatnya korupsi, sedang kita sempat sempat membaca tulisan gila dan tidak bermutu ini. Nah lho ada udang dibalik bakwan juga dalam tulisan ini.

   

Page 2 of 2