yoh

p3m

there

Malu Bertanya Tidak Usah Bertanya

14Nov2015

tanya

Bertanya bagi anda mungkin merupakan sebuah sikap atau tindakan karena tidak tahu, ragu atau bingung bahkan mungkin anda bego. Biasanya peribahasa aslinya : malu bertanya sesat di jalan, peribahasa ini konon berawal mula dari seseorang yang takut salah jalan, ketika pertama kali datang ke suatu daerah yang asing atau mungkin jalannya sudah digusur menjadi lahan bangunan sehingga harus memutar sampai pusing tujuh keliling. Sayangnya peribahasa ini sering tidak nyambung dalam hal hal yang khusus. Dalam lingkup sekolahan, malu bertanya biasanya karena tidak ada yang ditanyakan, malu bertanya takut ditertawakan, takut dikira bodoh. Padahal materi yang diajarkan guru sudah diterangkan dengan bertele tele sampai gurunya berbusa busa. Toh aslinya sih malu bertanya tetaplah sesat di “jalan”. Sengaja diberi tanda kutip karena istilah jalan tidak harus berupa gang, jalan aspal, jalan setapak, jalan bisa berarti tujuan, target, materi dan lain lain.

Seiring perkembangan jaman, terutama teknologi baik di semarphone eh maaf smartphone yang sudah mengusung map, bisa menggunakan Google Map, Ovi Map, Apple Map dan lain lain yang lebih canggih seperti Navitel, Garmin, Papago dan lain lain. Malu bertanya sesat di jalan sudah tidak relevan lagi. Jika ada teman yang sama sama paham teknologi dia tidak akan meminta alamat rumah, dia cukup minta koordinat dengan cara menghubungkan smartphone dengan satelit. Namun menggantungkan alat seperti banyak resikonya, ketika setrum batere habis, kiamat tentunya, maka malu bertanya sesat dijalan menjadi senjata andalan.

Kadang bertanya belum tentu merupakan sebuah hal yang tidak tahu, bingung, atau bego, kadang bertanya merupakan suatu bentuk sikap untuk memastikan orang lain paham. Sebagai contoh anda dikasih uang sama bokap, bokap sudah bicara sama nyokap kalau mau memberikan uang sama anda. Namun nyokap tetap bertanya, ini bukan sikap basa basi. Bertanya bisa merupakan sebuah kepastian telah dilakukan suatu kegiatan, bahkan kegiatan maling atau menyantet pun bisa dikategorikan dengan cara ditanyakan.

Lain lagi misalnya seorang guru bertanya, tujuan guru bertanya adalah memastikan anda mendengar penjelasan, untuk memastikan materi yang disampaikan tidak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tujuan guru bertanya juga macam macam, bisa mengetes muridnya, bisa ngerjain murid usil dan juga menghukum murid bandel. Tugas seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga bertanya, nggak ada dalam lingkup sekolah nggak ngasih pertanyaan setelah sekian lama mengajar.

Jadi bertanya itu ada dua hal yang penting, yang pertama “tidak tahu” dan yang kedua “memang tahu”, keduanya berada di sisi berbeda, ibarat timur dan barat, kalau sudah tahu ngapain bertanya lagi ? kalau tidak tahu situasi ini pertanyaan orang bego tentunya. Teka teki tilang misalnya, kebanyakan kita memberikan quis kita sudah tahu jawabannya : apa bedanya kotak sama katok ? jawabannya dulu : kalau katok bisa kotak kotak, kalau kotak tidak bisa katok katok, sekarang jawabanya sudah bias : kotak kotak itu baju Jokowi pas kampanye, kalau katoknya Jokowi tidak perlu kotak kotak. Bertanya juga merupakan sebuah kepastian dan penegasan : “Sudah beres ya ?” jadi bertanya itu tergantung situasi, tidak mungkin bertanya sama tembok, seumur hidup nggak bakalan dijawab.

Bertanya butuh keberanian, kebanyakan orang kita takut bertanya, belum bertanya saja sudah keringatan, apalagi kalau pas bertanya, bisa ngompol. Ketika anda tersesat di pasar, malu bertanya akan membuat anda semakin tersesat, jika dirunut secara logika, malu merupakan sebuah sikap kecenderungan ke arah “tidak”, “saya malu bertemu bapakmu ?”, artinya akan berusaha mati matian menghindari tidak bertemu dengan bapak anda itu, mungkin bapak anda orangnya sama sama pemalu, galak atau mungkin memang terlalu sopan sehingga membuat saya sungkan. Jika kecenderungan ke arah tidak, maka malu bertanya, ya tidak usah bertanya. Orang bertanya biasanya tergolong pemberani, coba dalam suatu acara sharing yang bertanya cuma satu dua, sisanya seperti tembok derita, bertanya itu menghabiskan waktu, menghabiskan konsumsi. Bertanya merupakan salah satu membangun intelektualitas, tanpa bertanya tidak ada jawaban, ada pertanyaan pasti ada jawabannya, jika anda bertanya yang biasa, maka jawabannya juga biasa saja, jika anda bertanya yang mustahil jawabannya juga mustahil, jika anda bertanya yang futuristik jawabannya juga futuristik atau jika anda bertanya yang porno, jawabannya juga porno.

Itulah kenapa orang cerdas, pintar, berhasil dan sukses selalu mengembangkan pertanyaan yang berkualitas, pertanyaan yang mengandung intelektualitas, orang bodoh akan bertanya yang bodoh. Mulailah bertanya yang biasa, kemudian kembangkan yang berkualitas, namun katanya bertanya yang berkualitas jawabannya kadang tidak berkualitas, itu namanya anda salah bertanya sama bersangkutan. Nanya cara membuat bakso sama tukang parkir, ya kalau kebetulan tukang parkir itu mantan penjual bakso nggak masalah, lha kalau mantan preman anda malah dipalak. Mari kita budayakan bertanya yang berkualitas !

Add comment


Security code
Refresh