yoh

p3m

there

Tidak Semuanya Damai Itu Indah

14Nov2015

peace

Kita sering mendengar istilah : Damai itu indah, slogan ini banyak kita temukan di markas markas TNI, ya memang tugas TNI adalah menciptakan perdamaian, perang bagi TNI akan dilakukan jika perundingan atau perdamaian gagal. TNI tidak akan asal melakukan peperangan, menyerbu, aneksasi, main caplok ke wilayah negara lain jika tidak ada sebab musababnya. TNI merupakan salah satu ciri kejujuran dalam melakukan tindakan, secara kelembagaan memang iya, namun tidak dihitung dalam kasus oknum per oknum. Jika ada anggota TNI yang membuat krisuh atau masalah itu tidak berarti TNI bermasalah.

Damai adalah keadaan di mana “tanpa masalah”, sengaja di beri tanda kutip, namanya masalah di mana saja tetap ada, bahkan di liang kubur pun tetap ada masalah, namun masalah masalah itu masih dalam koridor perdamaian. Sebagai contoh masyarakat kita memang damai, namun tetap saja ada masalah, seperti jadwal siskamling yang sering banyak absen, atau mungkin yang lebih parah masalah hidup kita sendiri tetap saja kere, utang menumpuk, anak rewel, orang kantor semrawut, kerja sering bolos atau terlambat gara gara macet. Jadi damai itu diibaratkan tanpa konflik yang mengancam persatuan bangsa, barulah itu disebut keadaan damai. Kalau sudah terjadi ancaman disintegrasi bangsa atau saya sebut sebagai persatean bangsa, ditusuk dan dipanggang dalam api perpecahan bangsa, kita hidup dalam ancaman, bukan cuma tidak bisa makan, malah nyawa kita jadi taruhan. Jadi damai itu bukan berarti bebas masalah.

Sayangnya damai itu indah kini sudah tak karuan bentuknya. Semua orang mendambakan perdamaian, bahkan makhluk sejagat, baik itu coro atau semut pun mendambakan perdamaian. Mereka tidak ingin sarangnya diusik. Damai itu indah sekarang sudah tidak indah lagi, malah diplesetkan damai itu Rp 20.000 atau damai itu Rp 50.000. Kebanyakan masalah masalah lalu lintas, seperti tidak memakai helm, melanggar rambu rambu, tidak menghidupkan lampu utama di siang hari dan jenis pelanggaran kecil lain di jalanan pasti akan diselesaikan dengan cara “damai itu indah”.

Ya memang “damai itu indah” model di jalanan merupakan jalan terbaik bagi kedua belah pihak, baik pelanggar maupun Pak Polisi nakal itu sendiri. Di satu pihak pelanggar tidak mau berurusan dengan hukum dan sidang pengadilan, asumsinya sih sepele, cuma pelanggaran ringan saja masak kudu ke pengadilan. Sebenarnya anggapan pelanggar semacam ini tidak bijak, masalah sepele seperti melanggar lampu merah bisa berakibat fatal, nyawa taruhan anda, jadi pantas saja tindakan itu merupakan bagian dari pembunuhan berencana yang diancam dengan hukuman gantung, eh maaf hukuman mati.

Adalah keliru hanya melanggar rambu rambu terus dianggap hal yang sepele, akibatnya mencari model penyelesaian lapangan yang mudah saja, bayar di tempat, kalau ini sih sebenarnya tidak masalah, asal jangan mengulangi pada kasus yang sama, melanggar lampu merah tiga kali kena tilang itu sudah tindakan bodoh. Secara bodoh, anggap saja hari ini melanggar lampu merah, kapan kapan tidak menyalakan lampu, ketika naik motor di pagi hari kena semprit Pak Polisi nakal itu.

“Selamat Pagi Pak “ sapa Pak Polisi atau Bu Polwan sambil menghormat ala tentara/tentiri.

“Selamat pagi juga Pak Polisi yang ganteng ( Bu Polwan yang cantik )” balas pelanggar dengan malu malu sambil garuk garuk kepala padahal tidak gatal, keringat dingin pun mulai menetes, bayangan pengadilan sudah tergambar dengan jelas.

“Tolong keluarkan SIM dan STNK ya .. “ perintah Pak Polisi dengan basa basi, mesti nanya dua surat sakti itu, sebenarnya itu cuma alasan saja kok, siapa tahu surat surat kendaraan itu sudah expired sehingga bisa semakin memeras anda.

“Ini Pak .. “ jawab pelanggar, pelanggar jenis ini sudah pintar karena nggak naruh uang di dompet, kalau dompet kita tebal, kita malah semakin kena garuk.

“Tahu pelanggaran Bapak ? menurut undang undang kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama pada siang hari “ ucap Pak Polisi dengan tampang menyudutkan.

“Polisi bego apa ini ? udah ngucapin selamat pagi, belum ada 2 menit mencari kesalahan pada menyalakan lampu utama pada siang hari, dasar polisi nggak tahu lapangan, kayak polisi belum cuci muka tuh, kalah sama si Pleki guwe, si Pleki tahu kapan bangun pagi, kapan bangun siang “ maki pelanggar dalam hati.

“Lho Pak ini khan masih pagi belum siang “ ucap pelanggar membela diri, sebisa bisanya lepas dari jebakan batman Pak Polisi, kalau Bu Polwan mah biasanya bisa ditawar, diajak makan makan mungkin bisa, atau nanya nomer hape Bu Polwan berapa, nggak usah kenalan sama Bu Polwan, akan kenal dengan sendirinya, anda sodor SIM, Bu Polwan pasti sudah tahu nama anda, sedang anda cukup lihat di dadanya… ya ampuuun .. saru ah .. lho .. lho .. di dada Bu Polwan khan sebelah kanan tertera namanya.

Biasanya sih kalau sama Bu Polwan apalagi kalau polwan masih cantik dan cakep, saya suka make banyak alasan, tidak bawa uang.

“Gimana kalau uangnya saya antar ke rumah Bu Polwan saja, tapi saya nggak mau ditilang .. masak seganteng begini kena tilang, memalukan khan Bu Polwan ?”

Back to topic ! Pak Polisi langsung sigap.

“Tidak bisa Pak, istilah siang hari itu kalau matahari sudah terbit “ rupanya Pak Polisi memang tidak tahu istilah pagi, siang, sore atau malam. Terus apel pagi setiap hari untuk apa coba ?

“Menurut undang undang bapak melakukan pelanggaran rambu rambu … “ ucap Pak Polisi, sayangnya sang pelanggar tak kalah gobliknya. Kita sendiri sudah memulai suatu hal yang paling bodoh, Pak Polisi belum selesai baca kesalahan menurut undang undang kita sudah langsung main potong, biarkan Pak Polisi atau Bu Polwan menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu di mana letak kesalahan kita. Tidak semua polisi berkelakuan sama

“Damai saja Pak .. “  kita main potong sembarangan, kita memancing ikan di air keruh.

Tidak semua polisi berkelakuan sama, ada juga polisi yang baik hati, pernah suatu hari saya kena tilang, tidak bawa duit, kebetulan Bu Polwan yang sabar.

“Maaf seribu maaf ya Bu Polwan, saya buru buru karena ibu saya di rumah sakit, benar nih Bu … seribu maaf saya nggak sengaja … “ ucap saya dengan merasa tidak bersalah melanggar rambu rambu, lha wong areanya berkelok kelok, itupun juga make jalur kiri. Gaya memelas dan akal bulus saya pun berhasil, padahal ibu saya berada di rumah sakit tidak sakit tapi tengok orang sakit. Sungguh terlalu ! Membohongi Bu Polwan yang cantik.

“Baik, silakan jalan hati hati di jalan, semoga ibu anda cepat sehat “ ucap Bu Polwan dengan senyumnya yang manis.

Saya terbiasa akan menghindari “damai itu indah” dengan tidak mengajak “damai model uang dulu”. Belum tentu semua polisi minta uang. Biarlah polisi yang “minta uang” atau “minta damai”. Tujuannya agar kita punya daya tawar, beda jika kita yang mengajak deal.

Dari pihak Polisi sendiri alasan melakukan “damai itu indah” dikarenakan biasanya masalah ekonomi, gaji polisi tidak seberapa, mereka pengin balikin modal masuk Akademi Kepolisian, alasan kedua karena diberi umpan sama pelanggar “Damai saja Pak !”. Tidak semua polisi menyukai model tilang, Pak Polisi juga tahu, yang melanggar peraturan setiap hari juga kerja, terkadang ada polisi yang baik hati mau melepaskan kita demi alasan pembelajaran.

“Damai mulu juga bosen Pak, saya jadi polisi selalu kena potong pelanggar, saya ndak ada niat minta duit, tapi si pelanggar yang memulai, apalagi pakai tampang memelas, kasihan khan tapi saya juga tidak pukul rata, kalau tingkat kesalahannya memang membahayakan ya langsung membuat surat tilang, kebiasan kebiasaan semacam itu susah juga diatasi “ seorang polisi yang curhat dengan saya di sebuah kedai kopi pinggir jalan.

Memang ada juga polisi nakal, masalah kenakalan polisi ini katanya kian merajalela, kita ikut andil menyuburkan praktik kenakalan polisi ini, dikit dikit damai, dikit dikit damai .. tidak semua polisi asal keluarkan surat tilang dan minta uang, jadi so kita sendirilah yang membiarkan Pak Polisi atau Bu Polwan menyadarkan kita, siapa tahu kita hanya diberi edukasi bahkan tanpa diminta keluarkan dompet sama sekali, tapi kalau polisi belum apa apa, kita sudah nyahoo “Damai saja Pak .. buru buru nih .. “ . Ini bukan sikap yang bijak, malah menyuburkan praktik kepol alias kenakalan polisi. Semoga !

Add comment


Security code
Refresh